Aku masih sering tiba-tiba.
Kupikir itu sudah tidak akan pernah lagi, mengingat aku sekarang sudah jauh lebih sakti dari yang dulu. Setidaknya saat aku menyakitimu dengan sengaja. Pasti saat itu kamu menyebutku pendekar sakti dari lembah kematian.
Tiba-tiba saja aku jatuh, terduduk dan diam. Kakiku bergetar tak sanggup untuk berdiri dan melanjutkan perjalanan. Lelah. Kututup wajahku dengan kedua tanganku yang berdebu, kuhirup debu-bedu itu agar sesakku semakin menghimpit.
Aku tak sanggup menyebut namamu, padahal otakku selalu mengingatmu. Jahat memang kalau dipikir-pikir, setiap aku merasa sakit, kuharap kamu sebagai obat. Padahal dulu aku menjelma racun yang menyusupi nadi sampai ke jantungmu.
Aku masih sering tiba-tiba.
Memimpikanmu dengan senyum dingin di sudut ruang hampa. Bukan udara yang tidak ada, tapi rindu yang mungkin sudah musnah. Mendekapmu yang tak pernah, tapi mengapa hangatnya selalu kurasa? Seperti -tenang percayalah, kamu hebat, kuat dan tak pernah kalah.
Aku rindu.
Mau sampai kapanpun, aku tetap dan masih rindu. Aku sudah menepati janji untuk tetap hidup. Walaupun saat menjalaninya aku setengah mati. Sekarang aku hanya mengandalkan diri sendiri untuk melanjutkan perjalanan ini. Aku tidak punya pijakan yang kuat, atap yang teduh, dinding yang kokoh, atau selimut yang hangat. Kedua tanganku memeluk erat lututku saat aku jatuh dan menggigil. Kutiup genggaman tanganku saat kumencari hangat, kutundukkan kepalaku pada lututku yang menekuk saat semua terasa berat. Dan kulesatkan butiran bening di kedua sudut mataku saat semua tak sanggup lagi kutampung sendiri.
Aku masih sering tiba-tiba.
Meskipun selalu kausangka hebat saat melupa.


0 komentar:
Posting Komentar