Kamis, 04 Desember 2025
DEWASA PADA WAKTUNYA
Minggu, 06 Juli 2025
Pura-pura
Aku masih sering tiba-tiba.
Kupikir itu sudah tidak akan pernah lagi, mengingat aku sekarang sudah jauh lebih sakti dari yang dulu. Setidaknya saat aku menyakitimu dengan sengaja. Pasti saat itu kamu menyebutku pendekar sakti dari lembah kematian.
Tiba-tiba saja aku jatuh, terduduk dan diam. Kakiku bergetar tak sanggup untuk berdiri dan melanjutkan perjalanan. Lelah. Kututup wajahku dengan kedua tanganku yang berdebu, kuhirup debu-bedu itu agar sesakku semakin menghimpit.
Aku tak sanggup menyebut namamu, padahal otakku selalu mengingatmu. Jahat memang kalau dipikir-pikir, setiap aku merasa sakit, kuharap kamu sebagai obat. Padahal dulu aku menjelma racun yang menyusupi nadi sampai ke jantungmu.
Aku masih sering tiba-tiba.
Memimpikanmu dengan senyum dingin di sudut ruang hampa. Bukan udara yang tidak ada, tapi rindu yang mungkin sudah musnah. Mendekapmu yang tak pernah, tapi mengapa hangatnya selalu kurasa? Seperti -tenang percayalah, kamu hebat, kuat dan tak pernah kalah.
Aku rindu.
Mau sampai kapanpun, aku tetap dan masih rindu. Aku sudah menepati janji untuk tetap hidup. Walaupun saat menjalaninya aku setengah mati. Sekarang aku hanya mengandalkan diri sendiri untuk melanjutkan perjalanan ini. Aku tidak punya pijakan yang kuat, atap yang teduh, dinding yang kokoh, atau selimut yang hangat. Kedua tanganku memeluk erat lututku saat aku jatuh dan menggigil. Kutiup genggaman tanganku saat kumencari hangat, kutundukkan kepalaku pada lututku yang menekuk saat semua terasa berat. Dan kulesatkan butiran bening di kedua sudut mataku saat semua tak sanggup lagi kutampung sendiri.
Aku masih sering tiba-tiba.
Meskipun selalu kausangka hebat saat melupa.
Minggu, 15 September 2024
Menjelma Mimpi
Hai, perkenalkan namaku rindu. Aku dulu selalu berada di antara dia dan kamu. Selalu menyelinap dirasanya dan rasamu. Ketika jarak terbentang di antara kalian, akulah yang sering menggema di dalam hati kalian. Iya, aku si rindu.
Tahukah kamu, bahwa dia sering menyalahkan aku ketika namamu tak sanggup disebut olehnya. Dia yang sesak, aku yang dicaci. Padahal aku hanyalah rindu.
Dia selalu menuntutku untuk pergi saja bersamamu, menemanimu, dan menjagamu. Aku sudah sering mengatakan kepadanya, bahwa kamu sudah tidak mau lagi menempatkan aku di dalam hati dan pikiranmu, apa lagi kalau sampai membawa dia bersamamu.
Dasar dia batu. Dalam waktu panjang dia pernah tak mengusikku, kupikir dia memang sudah benar-benar tidak akan pernah menyalahkanku lagi perkara kalian. Hingga pada suatu pagi, aku mendengar degup jantungnya memanggilku lagi. Kutanya kenapa? "Dia menjelma mimpi", katanya.
Kemudian dia bertanya lagi padaku, "Apakah kamu dikirim olehnya untukku?". Tapi, maaf kali ini aku membuatnya kecewa. Yang aku tahu, kamu memang sudah tidak lagi menitipkan aku untuknya, iya kan?
Sabtu, 13 Juli 2019
Hai
Aku sudah tak lagi melihatmu. Kamu seperti kilat; terlihat sekilas, hilang, tapi mendebarkan.
Tidak usah berlagak seperti pelangi yang muncul indah setelah hujan yang sangat kucintai, jika pada akhirnya akan menghilang juga dalam hitungan menit.
Tapi, lebih jahat lagu jika kamu benar-benar tak datang. Aku sudah pernah kamu tinggalkan lama, dan aku merana. Aku menyapa, namun hanya berbalas gema yang sama.
Aku tak cukup kuat untuk rindu sendirian. Memintal gulungan benang rindu yang seukuran dengan jarak, bukan hal yang mudah. Beberapa kali tanganku terluka, dan itu sangat pedih. Sama saja ketika kamu memutuskan untuk tak kembali.
Singgah sebentar saja, tanyakan kabarku.
Selasa, 02 April 2019
Peninjauan Kembali...
Mencintaimu itu ternyata sepaket. Ada tawa bahagia lalu tangis air mata. Bisa terjadi bergantian, atau bersamaan dalam satu waktu. Anehnya, itu tetap saja aku sebut cinta.
Coba kita flashback ke beberapa tahun yang lalu, saat kamu sungguh benar sangat menginginkanku. Di setiap rapal doamu selalu memintaku kepada Tuhanmu. Namaku selalu menjadi penutup dari doa-doa panjangmu. Sungguh, Tuhan pun iba melihat kesungguhan hatimu. Hingga di suatu saat, Dia perkenankan aku untukmu. Kamu bahagia? Pastinya. Selamat!! Kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tidak ada yang bisa menyangkal betapa saktinya doa itu.
Perjalanan panjang kita penuh dengan terimakasih. Ada sesuatu yang kuterima dari apa yang kamu kasih. Kusebut itu simbiosis mutualisme yang manusiawi. Antara kita terjadi hubungan yang saling menguntungkan. Layaknya pasangan yang sedang kasmaran, kita melalui hari-hari bahagia itu dengan tatapan hangat penuh sayang, dan diakhiri dengan tawa bahagia dalam dekapan erat dengan cinta.
Mereka bilang itu "relationship goal", ahhh itu kata mereka yang melihat, yang ikut bahagia sungguhan atau yang diam-diam menyimpan dengki. Berkatalah sepuas mereka tentang kita, mereka sungguh hanya penonton dengan segala komentarnya. Kita peduli? Tidak sama sekali.
Yang aku takutkan perlahan mulai terang, ada yang kamu lupa tentang perjuanganmu. Tidakkah kamu ingin selalu memperjuangkanku?? Ingat, kemerdekaan itu perlu diisi, agar tidak kembali dikuasai oleh penjajah. Perjuangan yang sesungguhnya adalah upaya untuk mempertahankan. Jangn terlena dengan status merdeka. Di luaran sana masih ada yang ingin melihat kita hancur ketimbang berbahagia.
Jika masih menganggapku sesuatu yang berharga, tolong jaga. Jika hanya sebagai gengsi, hati-hati jika nanti aku menjadi lebih bergengsi setelah tidak bersamamu.
Sabtu, 23 Maret 2019
Lagi dan lagi
Aku pikir sudah waktunya aku mengakhiri segala bentuk rasa tentangmu, termasuk rindu. Bukan, ini bukan karena terlarang. Mana bisa perasaan itu dilarang, dibunuh saja tepatnya. Tapi, apa yang akan tersisa saat pembunuhan itu terjadi? Kematian. Mati rasa! Bukankah hidup itu harus banyak rasa?
Aku merindukanmu, sungguh. Tapi, aku tidak mau membuatnya setengah hidup dan setengah mati. Aku tidak pernah mati suri, namun perasaanku sudah pernah seperti itu. Inginku berlari sangat jauh, sampai tidak ada yang bisa mencariku, dan aku juga tidak tahu lagi arah jalan pulang. Tapi aku tidak bisa, rinduku selalu memanggilku untuk pulang.
Padahal saat pulang, tidak aku temukan dekap yang selama ini kudamba. Sia-sia. Ternyata aku kembali kepada pelukan semu. Kutemukan kedua tanganku memeluk bayanganku sendiri.
Kamu benar telah pergi. Aku benar telah sepi. Mengadukan dukaku pada semesta adalah cara terbaik saat sesak melanda. Aku teriakkan saja namamu di tengah derasnya hujan. Biar hujan tahu, aku sangat merindukanmu.
Jumat, 06 April 2018
Nanti akan seperti itu...
Ada beberapa kasus tentang rindu. Mungkin rasa rindu akan terobati dengan bertegur sapa, saling chat dengan menyapa "Hai" atau "apa kabar?". Tapi bagiku tidak. Entahlah, mengenang saat bersamamu lebih membuat rinduku membaik, ketimbang aku harus bertanya tentang kabarmu. Aku yakin jika kamu baik-baik saja di manapun kamu berada. Tapi kenangan, tidak semua kenangan kita sama. Sekecil apapun cerita yang dulu kita buat, belum tentu bisa kamu ingat dengan baik. Begitu juga denganku. Bagiku sesuatu itu berkesan, belum tentu bagimu.
Mengingat hal yang dulu membuatku tersenyum sendirian. Walaupun tak jarang berakhir dengan tangisan penyesalan. Iya, aku hanya butuh sendiri untuk mengenangmu. Aku hanya tersenyum dan menangis sendiri. Tidak perlu kamu tau. Terlihat bodoh? Jelas! Kamu saja sudah tidak mengingatku. Mengingat kenangan tentang kita. Taukah kamu ternyata hal yang kita anggap tak berkesan dulu, akan sangat berarti sekarang. Bahkan hanya sekedar senyum yang dipaksakan. Aku belajar menghargai apa-apa yang aku alami sekarang, karena esok itu semua akan menjadi kenangan yang bisa dibanggakan atau sekedar peringatan.
Sekarang dalam pikiranku, kamu di sana memang tetap mengingatku. Entah itu sebagai bekas hati yang kamu cinta, atau sebagai takdir yang tak terelakkan. Bagaimanapun bentuk ingatanmu, aku terimakasih sekali. Mungkin dia yang sekarang di sampingmu, atau yang kelak bergandengan denganmu akan jauh lebih baik untukmu. Tapi, kamu harus ingat. Tidak ada yang seperti aku, jangan menganggap dia seperti aku. Dia jauh lebih baik dari aku.
Mudah saja aku berkata seperti itu. Tapi, sesungguhnya aku cemburu. Cemburu tanpa objek yang jelas. Jika nanti kamu dapatkan dia sebagai pelabuhan terakhirmu, pada saat itu juga aku berjanji untuk segera hilang dari hidupmu. Sama seperti Edward Cullen yang meninggalkan Bella tanpa jejak di cerita New Moon. Bahkan jejakpun tak kuizinkan tinggal di dekatmu. Apa aku jahat? Tidak, justeru aku mencoba baik kepada dia. Aku berbaik kepadanya dengan tidak membayang-bayangi hidup kalian. Dan kamu tidak akan pernah tau lagi tentang rinduku. Selamat berbahagia.



