Pages

Kamis, 04 Desember 2025

DEWASA PADA WAKTUNYA


Kehidupan orang dewasa yang dulu sangat ingin kujalani, menghitung hari sampai umur bisa mencapai waktu untuk punya KTP, SIM dan ATM. Setelah 17 tahun usia, ah biasa saja. Cuma tidak akan disalahkan lagi jika membaca novel 17+ atau menonton film yang juga rating 17+, sisanya malah beban. Beban yang bilang "Udah gede, udah bisa mikir dong. Udah gede jangan begitu dong" Sekarang, setelah umur kinyis-kinyis itu sudah dilewati dua kali lipatnya, jadi yang "Hadeuuhhhh, gini amat yak" isinya ngeluh-ngeluh dan ngantukan. Kerja ya tetep kerja, semangat ya tetep semangat. Karena cuma itu lah yang dipunya, semangat tanpa bayar alias gratis. Buat dapetin semangat cuma perlu "Ayookkk semangat, kamu pasti bisa. Yang kemaren berat banget aja udah bisa dilewatin kok. Ayolaaahhh semangat, ada banyak wishlist yang kudu diceklis nih" 

Aku yang lahir dan takdirnya jadi anak milenial, berada di tengah-tengah 2 generasi yang keduanya rawan tantrum. Orang tua yang baby boomers dan anak-anak Gen Alpha. Ada aja dramanya setiap hari, ada juga gebrakannya tiap hari. Aku sampai di titik "Astaghfirullah, astaghfirullah, ya Allah angkat saja aku dari bumi ini". Aku disuruh ngertiin yang tua dan ngemong yang muda, sementara aku bergantung dan bersandar ke siapa? Allah? Itu udah pasti. Allah, ya, cuma Allah emang. Enggak ada siapa-siapa lagi yang sayang ke aku ini. Buktinya sampai aku nulis begini, napasku masih aman, jantungku masih berdetak sebagaimana mestinya, masih bisa berpikir anak-anak mau makan apa ya? Besok bawain bekal apa ya? Seragam udah disetrika belum ya? Ada PH apa besok di sekolah? Walaupun kadang suka salah group, bisa-bisanya nanyain pelajaran anak kelas 2 di group anak kelas 4, atau sebaliknya. Ya, kocak.

Apapun bentuk ujian hidup, ya nggak ada pilihan kecuali dijalanin. Kadang pengin nyerah, tapi ada aja cara Allah membantunya buat melangkah maju lagi, berdiri lagi, kuat lagi dan tersenyum lagi. Jujurly, aku emang manusia yang sok kuat, sok hebat, dan sok-sok-an. Sudah terbiasa sendiri, dan menganggap semuanya bisa aku selesain sendiri. Aku capek, itu selalu, mau nyerah ya udah sering. Tapi bukan berarti kufur nikmat. Semua yang Allah kasih k hidupku selama ini baik ujian maupun kesenangan, semunya kusyukuri. Cuma memang karena aku manusia, jadi manusiawi banget kalau bilang "Ya Allah, gini amat yak? Capek, ya Allah". 

Dari dulu tempat curhatku itu cuma buku diary yang ada gemboknya, bisanya cuma nulis. Kadang dalam menulispun belum jujur yang sejujur-jujurnya jujur. Masih ada yang kurahasiakan cuma bisa kuisyaratkan di hati yang hanya Allah yang tau. Mana bisa kusembunyikan apa-apanya dari Robbku.

Lagi di fase menghadapi ujian terberat sih ini. Antara kesehatan mental dan kewajiban. Menunaikan kewajiban dan mempertaruhkan kejiwaan, atau menyelamatkan kejiwaan tapi mengabaikan kewajiban? Sebenarnya, seharusnya, semestinya, kewajiban itu bisa dilaksanakan jika kejiwaan ini terjaga. Terjaga jiwa raga, sehat lahir batin, tidak tertekan. Harusnya disayangi, bukan diminta untuk balas budi. Karena kasih sayang yang tulus tak meminta balas budi, dan tak perlu balas budi. Bakti akan terjadi tanpa perlu diminta atau diintimidasi. Bukan salah bunda mengandung (kata pepatah), hanya saja memang terkadang hidup tak selamanya seperti yang kita mau, kadang kita tanpa sadar menjadi apa yang orang lain mau. Selama ini sudah kujalani seperti itu, seperti apa yang orang lain mau. Ternyata kehidupan yang seperti itu sungguh tidak baik bagi diriku. Diriku yang ringkih dan sok kuat ini ternyata bisa sakit sesakit-sakitnya hati dan jiwanya. Hanya Allah sebaik-baiknya penolong. Buktinya masih selalu diberi sehat, diberi kesempatan untuk terus merasa sehat dan baik-baik saja.

Sungguh menjadi dewasa itu beban mental yang mengakar dan kekal. Sakitnya tidak bisa sembuh, hanya bisa diredam. Memaafkan bukan berarti lupa. Baik-baik saja hanya kata-kata yang fungsinya hanya sebagai obat penenang. Yang terlihat tenang belum tentu isi kepalanya seperti danau, kadang penuh gelombang seperti pusaran air terjun yang tak jelas bermuara di mana. Kadang pula menangis itu bukan karena lemah, tapi hanya itu respon terbaik yang diberikan oleh tubuh dari banyaknya hantaman yang brtubi-tubi datang tanpa jeda.

Terima kasih Allah, di tengah badai cobaan yang harus dicobain, Engkau ciptakan kopi sebagai teman sepi.



Minggu, 06 Juli 2025

Pura-pura

Aku masih sering tiba-tiba. 

Kupikir itu sudah tidak akan pernah lagi, mengingat aku sekarang sudah jauh lebih sakti dari yang dulu. Setidaknya saat aku menyakitimu dengan sengaja. Pasti saat itu kamu menyebutku pendekar sakti dari lembah kematian. 

Tiba-tiba saja aku jatuh, terduduk dan diam. Kakiku bergetar tak sanggup untuk berdiri dan melanjutkan perjalanan. Lelah. Kututup wajahku dengan kedua tanganku yang berdebu, kuhirup debu-bedu itu agar sesakku semakin menghimpit. 

Aku tak sanggup menyebut namamu, padahal otakku selalu mengingatmu. Jahat memang kalau dipikir-pikir, setiap aku merasa sakit, kuharap kamu sebagai obat. Padahal dulu aku menjelma racun yang menyusupi nadi sampai ke jantungmu.

Aku masih sering tiba-tiba.

Memimpikanmu dengan senyum dingin di sudut ruang hampa. Bukan udara yang tidak ada, tapi rindu yang mungkin sudah musnah. Mendekapmu yang tak pernah, tapi mengapa hangatnya selalu kurasa? Seperti -tenang percayalah, kamu hebat, kuat dan tak pernah kalah. 

Aku rindu.

Mau sampai kapanpun, aku tetap dan masih rindu. Aku sudah menepati janji untuk tetap hidup. Walaupun saat menjalaninya aku setengah mati. Sekarang aku hanya mengandalkan diri sendiri untuk melanjutkan perjalanan ini. Aku tidak punya pijakan yang kuat, atap yang teduh, dinding yang kokoh, atau selimut yang hangat. Kedua tanganku memeluk erat lututku saat aku jatuh dan menggigil. Kutiup genggaman tanganku saat kumencari hangat, kutundukkan kepalaku pada lututku yang menekuk saat semua terasa berat. Dan kulesatkan butiran bening di kedua sudut mataku saat semua tak sanggup lagi kutampung sendiri.

Aku masih sering tiba-tiba.

Meskipun selalu kausangka hebat saat melupa.



Minggu, 15 September 2024

Menjelma Mimpi

Hai, perkenalkan namaku rindu. Aku dulu selalu berada di antara dia dan kamu. Selalu menyelinap dirasanya dan rasamu. Ketika jarak terbentang di antara kalian, akulah yang sering menggema di dalam hati kalian. Iya, aku si rindu. 

Tahukah kamu, bahwa dia sering menyalahkan aku ketika namamu tak sanggup disebut olehnya. Dia yang sesak, aku yang dicaci. Padahal aku hanyalah rindu.

Dia selalu menuntutku untuk pergi saja bersamamu, menemanimu, dan menjagamu. Aku sudah sering mengatakan kepadanya, bahwa kamu sudah tidak mau lagi menempatkan aku di dalam hati dan pikiranmu, apa lagi kalau sampai membawa dia bersamamu. 

Dasar dia batu. Dalam waktu panjang dia pernah tak mengusikku, kupikir dia memang sudah benar-benar tidak akan pernah menyalahkanku lagi perkara kalian. Hingga pada suatu pagi, aku mendengar degup jantungnya memanggilku lagi. Kutanya kenapa? "Dia menjelma mimpi", katanya. 

Kemudian dia bertanya lagi padaku, "Apakah kamu dikirim olehnya untukku?". Tapi, maaf kali ini aku membuatnya kecewa. Yang aku tahu, kamu memang sudah tidak lagi menitipkan aku untuknya, iya kan? 



Sabtu, 13 Juli 2019

Hai

Aku sudah tak lagi melihatmu. Kamu seperti kilat; terlihat sekilas, hilang, tapi mendebarkan.

Tidak usah berlagak seperti pelangi yang muncul indah setelah hujan yang sangat kucintai, jika pada akhirnya akan menghilang juga dalam hitungan menit.

Tapi, lebih jahat lagu jika kamu benar-benar tak datang. Aku sudah pernah kamu tinggalkan lama, dan aku merana. Aku menyapa, namun hanya berbalas gema yang sama.

Aku tak cukup kuat untuk rindu sendirian. Memintal gulungan benang rindu yang seukuran dengan jarak, bukan hal yang mudah. Beberapa kali tanganku terluka, dan itu sangat pedih. Sama saja ketika kamu memutuskan untuk tak kembali.

Singgah sebentar saja, tanyakan kabarku.

Selasa, 02 April 2019

Peninjauan Kembali...

Mencintaimu itu ternyata sepaket. Ada tawa bahagia lalu tangis air mata. Bisa terjadi bergantian, atau bersamaan dalam satu waktu. Anehnya, itu tetap saja aku sebut cinta.

Coba kita flashback ke beberapa tahun yang lalu, saat kamu sungguh benar sangat menginginkanku. Di setiap rapal doamu selalu memintaku kepada Tuhanmu. Namaku selalu menjadi penutup dari doa-doa panjangmu. Sungguh, Tuhan pun iba melihat kesungguhan hatimu. Hingga di suatu saat, Dia perkenankan aku untukmu. Kamu bahagia? Pastinya. Selamat!! Kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tidak ada yang bisa menyangkal betapa saktinya doa itu.

Perjalanan panjang kita penuh dengan terimakasih. Ada sesuatu yang kuterima dari apa yang kamu kasih. Kusebut itu simbiosis mutualisme yang manusiawi. Antara kita terjadi hubungan yang saling menguntungkan. Layaknya pasangan yang sedang kasmaran, kita melalui hari-hari bahagia itu dengan tatapan hangat penuh sayang, dan diakhiri dengan tawa bahagia dalam dekapan erat dengan cinta.

Mereka bilang itu "relationship goal", ahhh itu kata mereka yang melihat, yang ikut bahagia sungguhan atau yang diam-diam menyimpan dengki. Berkatalah sepuas mereka tentang kita, mereka sungguh hanya penonton dengan segala komentarnya. Kita peduli? Tidak sama sekali.

Yang aku takutkan perlahan mulai terang, ada yang kamu lupa tentang perjuanganmu. Tidakkah kamu ingin selalu memperjuangkanku?? Ingat, kemerdekaan itu perlu diisi, agar tidak kembali dikuasai oleh penjajah. Perjuangan yang sesungguhnya adalah upaya untuk mempertahankan. Jangn terlena dengan status merdeka. Di luaran sana masih ada yang ingin melihat kita hancur ketimbang berbahagia.

Jika masih menganggapku sesuatu yang berharga, tolong jaga. Jika hanya sebagai gengsi, hati-hati jika nanti aku menjadi lebih bergengsi setelah tidak bersamamu.

Sabtu, 23 Maret 2019

Lagi dan lagi

Aku pikir sudah waktunya aku mengakhiri segala bentuk rasa tentangmu, termasuk rindu. Bukan, ini bukan karena terlarang. Mana bisa perasaan itu dilarang, dibunuh saja tepatnya. Tapi, apa yang akan tersisa saat pembunuhan itu terjadi? Kematian. Mati rasa! Bukankah hidup itu harus banyak rasa?

Aku merindukanmu, sungguh. Tapi, aku tidak mau membuatnya setengah hidup dan setengah mati. Aku tidak pernah mati suri, namun perasaanku sudah pernah seperti itu. Inginku berlari sangat jauh, sampai tidak ada yang bisa mencariku, dan aku juga tidak tahu lagi arah jalan pulang. Tapi aku tidak bisa, rinduku selalu memanggilku untuk pulang.

Padahal saat pulang, tidak aku temukan dekap yang selama ini kudamba. Sia-sia. Ternyata aku kembali kepada pelukan semu. Kutemukan kedua tanganku memeluk bayanganku sendiri.

Kamu benar telah pergi. Aku benar telah sepi. Mengadukan dukaku pada semesta adalah cara terbaik saat sesak melanda. Aku teriakkan saja namamu di tengah derasnya hujan. Biar hujan tahu, aku sangat merindukanmu.

Jumat, 06 April 2018

Nanti akan seperti itu...

Ada beberapa kasus tentang rindu. Mungkin rasa rindu akan terobati dengan bertegur sapa, saling chat dengan menyapa "Hai" atau "apa kabar?". Tapi bagiku tidak. Entahlah, mengenang saat bersamamu lebih membuat rinduku membaik, ketimbang aku harus bertanya tentang kabarmu. Aku yakin jika kamu baik-baik saja di manapun kamu berada. Tapi kenangan, tidak semua kenangan kita sama. Sekecil apapun cerita yang dulu kita buat, belum tentu bisa kamu ingat dengan baik. Begitu juga denganku. Bagiku sesuatu itu berkesan, belum tentu bagimu.

Mengingat hal yang dulu membuatku tersenyum sendirian. Walaupun tak jarang berakhir dengan tangisan penyesalan. Iya, aku hanya butuh sendiri untuk mengenangmu. Aku hanya tersenyum dan menangis sendiri. Tidak perlu kamu tau. Terlihat bodoh? Jelas! Kamu saja sudah tidak mengingatku. Mengingat kenangan tentang kita. Taukah kamu ternyata hal yang kita anggap tak berkesan dulu, akan sangat berarti sekarang. Bahkan hanya sekedar senyum yang dipaksakan. Aku belajar menghargai apa-apa yang aku alami sekarang, karena esok itu semua akan menjadi kenangan yang bisa dibanggakan atau sekedar peringatan.

Sekarang dalam pikiranku, kamu di sana memang tetap mengingatku. Entah itu sebagai bekas hati yang kamu cinta, atau sebagai takdir yang tak terelakkan. Bagaimanapun bentuk ingatanmu, aku terimakasih sekali. Mungkin dia yang sekarang di sampingmu, atau yang kelak bergandengan denganmu akan jauh lebih baik untukmu. Tapi, kamu harus ingat. Tidak ada yang seperti aku, jangan menganggap dia seperti aku. Dia jauh lebih baik dari aku.

Mudah saja aku berkata seperti itu. Tapi, sesungguhnya aku cemburu. Cemburu tanpa objek yang jelas. Jika nanti kamu dapatkan dia sebagai pelabuhan terakhirmu, pada saat itu juga aku berjanji untuk segera hilang dari hidupmu. Sama seperti Edward Cullen yang meninggalkan Bella tanpa jejak di cerita New Moon. Bahkan jejakpun tak kuizinkan tinggal di dekatmu. Apa aku jahat? Tidak, justeru aku mencoba baik kepada dia. Aku berbaik kepadanya dengan tidak membayang-bayangi hidup kalian. Dan kamu tidak akan pernah tau lagi tentang rinduku. Selamat berbahagia.