Pages

Tampilkan postingan dengan label cerita kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita kita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2014

Misscalled dari Surga


Hari yang begitu panjang dan melelahkan bagiku tentunya. Seharusnya aku ke sana, ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tapi entah mengapa kakiku sangat berat melangkah ke sana. Bayangan masa lalu mulai kembali menyerang sistem syaraf pusatku. Membuat serangan-serangan yang mematikan sistem kerja jantung, terasa sesak di dada. Aku hempaskan tubuhku ke sofa ruang tamu rumah kontrakan. Lampu ruang tamu belum menyala, padahal waktu telah menunjukkan pukul 5 lebih 10 menit, sore. Aku rasa semua penghuni kontrakan belum ada yang pulang. Hanya aku.
“Yan, kamu bahagia di sana, sementara aku?? Aku bisa apa, Yan?? Setahun, setahun aku lewati hari-hari yang berat ini tanpa kamu.”
Aku meracau lirih sambil menatap wallpaper homescreen handphoneku, foto Riyan. Fotonya memakai jubah kelulusan, foto terakhir yang dikirimnya sesaat sebelum kejadian itu. Kejadian yang merenggut separuhku!
Aku lemah, aku cengeng, lagi dan lagi aku tak mampu menahan air mataku. Ku biarkan air jernih itu mengalir semaunya, sampai titik jenuh menghentikannya. Tapi tidak menghentikan rinduku pada dia yang berada di alam sana. Riyan.
Tiba-tiba lampu ruang tamu menyala.
“Kiran, udah pulang? Kok lampunya nggak dinyalain sih??” Tanya Kak Ivon sambil duduk di sofa seberang.
“Eh Kak Ivon” Aku hanya menyapanya, namun tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya meliriknya sekilas dan kembali menyapu pandanganku ke arah handphoneku. Tak ku dengar suara Kak Ivon yang menuturkan sesuatu dalam kalimat yang panjang dan sayup. Entahlah, mungkin aku tidak fokus dengan sekelilingku.
“Kiran, kakak mungkin nggak sepenuhnya mengerti perasaan kamu, tapi kakak tau ini memang berat.” Aku menoleh ke arah Kak Ivon.
“Sangat berat kak” Statementku mempertegasnya.
“Riyan bakal sedih melihat kamu yang terus-terusan begini. Move on Kiran, jalan masih panjang. Kalaupun belum bisa mencari pengganti Riyan, minimal kamu ceria lagi seperti dulu” Kak Ivon bertutur dengan nada penuh harap.
“Entahlah kak. Mungkin aku bodoh. Aku udah mencoba kak. Tapi nihil, selalu dan selalu balik lagi ke Riyan” kali ini aku berkata tanpa air mata. Entahlah mungkin sudah kering. Kak Ivon mendekatiku dan memeluk tubuhku. Hanya kata “sabar” yang tiada henti ia ucapkan kepadaku.
“Kamu mandi, siap-siap sholat maghrib dan doain Riyan, ini satu tahun dia berpulang kan? Bisa sedikit mengobati rindu kamu dengan dia” Kak Ivon melepaskan pelukannya perlahan.
“Iya kak, makasih ya” Aku mengusap sisa-sisa air mata di pipiku. Kak Ivon adalah salah satu orang terdekatku, yang mengetahui segala hal tentang kisahku. Ia yang menemani hari-hari, jika tidak ada dia dan teman-teman di kontrakan ini, mungkin ide gilaku menyusul Riyan akan terealisasi dengan sukses.
Beep...beep..beep...
1 message received
(nomor baru)
“Hai Kirana, apa kabar?? Be a nice girl!!”
Satu pesan dari nomor baru, tidak ku kenal masuk ke handphoneku. “Siapa ini?” Hanya ku baca, aku tak berniat membalas pesan misterius itu. Aku menyalakan TV di kamarku, tidak berniat untuk menontonnya, hanya meramaikan suasana kamarku yang sunyi dan sepi. Seperti hatiku. Tak lama kemudian handphoneku berbunyi lagi.
1 message received
(Rica)
“Ran, gue ga balik k homey mlm ini, nginep d rmh eyang. Paketan udh lu ambil??”
Aku baru ingat, tadi siang Rica SMS kalau ada paketan yang dikirim untuk ku. Dari siapa? Aku bergegas ke kamar Rica. Walaupun enggan ke luar kamar, namun hati kecilku penasaran dengan paketan yang tidak aku pesan. aku memasuki kamar Rica, lalu  mencari-cari letak paketan itu. Tak perlu waktu lama, aku sudah menemukan paketan itu di kamar yang tidak terlalu besar. Paket misterius itu mengisi pojok kamar Rica.
“Kotak itu kah?” Aku bertanya dalam hati. Ku lihat tulisan yang tertulis di sampul kotak itu “Kirana”. Iya benar itu untuk ku. Aku pun membalas sms dari Rica setelah ku temukan paket itu
“Oke Ca, lu ati2 ya, paketnya udah gue ambil, makasii Ca” sent to Rica
Aku beranjak ke kamar ku meninggalkan kamar Rica yang letaknya bersebrangan dengan kamar ku. Aku masih memandang kotak berbungkus kertas kopi. Tak tau siapa yang mengirim, tak ada nama pengirimnya. Jangan-jangan ini bom? Ahh.. Aku menepis perasaan konyolku.
-Crush (David Archuleta) terdengar dari handphoneku. Aku kaget mendengar nada dering itu. Bukan bergegas mengangkat telepon itu, aku hanya terdiam mendengarkan ringtone itu. Sampai dering telepon itu mati karena tidak diangkat.
Crush?? Lagu itu?? Riyan??” jantungku berdegup kencang, sangat kencang ku rasa. Aliran darahku, ku rasakan lebih cepat melewati pembuluh darahku, napasku menggebu. “Nggak mungkin!!!” aku berteriak dalam hati dan menggelengkan kepalaku berulang kali. Crush, lagu favoriot Riyan. Aku masih ingat, lagu itu jadi ringtone khusus dia jika meneleponku. Aku tidak pernah menggantinya, dan sudah lama sekali aku tidak mendengarnya berbunyi dari panggilan handphoneku. Terakhir kali di hari itu, tepat 15 menit sebelum kejadian tragis itu. Tapi apa yang baru saja aku dengar?? Ringtone itu berbunyi, telepon Riyan??
“Kenapa suka lagu Crush?”
“Kenapa kamu suka aku?”
Come on, Riyan. Aku serius”
Come on, Kiran. Aku juga serius”
“Hey dude, yang namanya pertanyaan butuh jawaban, bukan dijawab dengan pertanyaan lagi”
“Hey miss, ada pertanyaan yang nggak bisa dijawab, nggak harus dijawab, dan nggak penting dijawab”
“Jadi menurut kamu, pertanyaanku nggak penting??”
“Iya. Pertanyaan kamu nggak penting. Karena cuma kamu yang penting!!”
“Oh... Mr. Riyan, gombal maksimal. Stop it!!”
“Hahahaha... Kiran, Kiran. Kamu tau Crush kan?? Kalau aku cerita yang sebenarnya, itu jauh lebih buat kamu GR dari sekedar gombal!!”
Promise, nggak bakal GR”
“Nggak mungkin, karena sifat dasar cewek itu ke-GR-ran”
“Tapi, nggak semua. Aku nggak”
“Dalam hati siapa yang tau”
“Oke, abaikan. Aku nggak mau tau lagi”
“Kiran, ngambek??”
“Terserah”
“Nyerah??”
“Bodo...”
“Kamu mau tau?”
“Udah nggak mau tau lagi”
“Kamu udah tau kok, Ran”
Tiba-tiba saja memoriku kembali melayang ke percakapan sore itu, di warung es kelapa muda. Percakapan tentang "Crush" di penghujung senja. Senyuman itu, tawa renyah itu, terlau lekat dan erat menempel di dinding-dinding selaput otakku.... oh my Riyan, I miss you so bad.
Aku masih penasaran dengan telepon masuk dengan ringtone Riyanku. Mungkin aku lupa kalau telah mengganti ringtone standar handphoneku dengan lagu itu. Tapi aku rasa tidak, karena aku memang tidak pernah menggantinya seingatku. Perlahan ku ambil handphoneku dari atas meja belajarku.
1 missedcall
“Yan_Quw”
Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat di layar ponselku. Bagaimana mungkin nomor Riyan meneleponku. Sekarang. Hey dunia, permainan macam apa ini?? Aku mengecek nomor itu berkali-kali, dan memang itu benar nomor milik Riyan.
Aku coba menelepon balik nomor itu. Hanya suara operator  yang menjawabnya, seperti yang sudah-sudah. Tapi tadi nyata, aku tidak berhalusinasi. Itu memang berbunyi, dan itu dari kontak Riyan. Aku mencubit punggung tanganku, dan memang terasa sakit. Aku tidak berimajinasi. Ini nyata. Apa ini? Apa yang terjadi? Atau mungkin dia marah karena hari ini aku tidak datang ke makamnya??
Riyan, aku sangat merindakanmu!!!

-CRUSH-

 I hung up the phone tonight,
Something happened for the first time,
Deep inside it was a rush, what a rush,
Cause the possibility that
You would ever feel the same away about me,
It’s just too much, just too much


Why do I keep running from the truth,
All I ever think about is you
You got me hypnotized, so mesmerized,
And I just got to know


Do you ever think, when you’re all alone,
All that we can be, where this thing can go,
Am I crazy or falling in love,
Is it real or just another crush
Do you catch a breath, when I look at you,
Are you holding back, like the way I do,
Cause I’m tryin’, tryin’ to walk away
But I know this crush aint’ goin’ away, goin’ away


Has it ever cross your mind when we’re hangin’,
Spending time girl,
Are we just friends, is there more, is there more,
See it’s a chance we’ve gotta take,
Cause I believe that we can make this into
Something that will last,
Last forever, forever


Do you ever think, when you’re all alone,
all that we can be, where this thing can go,
Am I crazy or falling in love,
Is it real or just another crush
Do you catch a breath, when I look at you,
Are you holding back, like the way I do,
Cause I’m tryin’, tryin’ to walk away
But I know this crush aint’ goin’ away, goin’ away


Why do I keep running from the truth,
All I ever think about is you
You got me hypnotized, so mesmerized,
And I just got to know


Do you ever think, when you’re all alone,
all that we can be, where this thing can go,
Am I crazy or falling in love,
Is it real or just another crush
Do you catch a breath, when I look at you,
Are you holding back, like the way I do,
Cause I’m tryin’, tryin’ to walk away
But I know this crush aint’ goin’ away, goin’ away


-David Archuleta-

Selasa, 25 Maret 2014

Perpisahan Es Kelapa Muda


by klmig.com
Tiba-tiba terhenyak ketika mendengar pertanyaan yang terlontar "Kamu pernah jatuh cinta??"
Entahlah apakah aku masih bisa jatuh cinta lagi? Apakah aku masih pantas jatuh cinta? Atau masih adakah cinta yang sudi singgah di hati ini? Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Walau otak dan hatiku bersirnegi mencerna kata-kata itu, bagai menguntai pilinan RNA dan DNA. Sangat sulit membuka mulut untuk melontarkan kata "pernah" atau "tidak".
"Kok nanya nya gitu??"
"Hanya penasaran aja, kamu bisa jatuh cinta atau nggak?"
"Menurut kamu??"
"Pernah, bahkan terlalu dalam kamu jatuhnya" 
Lagi dan lagi kata-katanya menohok terlalu dalam, hingga membuat aku tersedak. 

by narotama.ac.id
Aku berjalan menelusuri torotoar kampus, tak berniat pulang ke kostan dengan menaiki angkot seperti biasanya. Melihat kiri kanan jalan, banyak sekali kendaraan berlalu lalang asap kendaraannya kontan menjadi polusi. Lamunanku seketika berkelana menembus lorong waktu, kembali ke saat-saat itu. Aaahhh rasanya sudah lama sekali. Warung es kelapa muda di pinggir jalan kampus. Dulu aku sering ke sana, menikmati langit sore kampus yang indah, bewarna merah saga dengan semilir angin, sejuk rasanya. Mengerjakan sebagian tugas layaknya mahasiswa pada umumnya, atau sekedar melepas lelah, berbincang dan bercanda bersama dia. Warung lesehan es kelapa muda. Mungkin terlihat aneh, ketika hujan deras mengguyur, masih saja berteduh di warung es itu dan membeli satu es kelapa muda yang utuh, itu kebiasaan dia. Aku tak akan pernah lupa.

Kakiku melangkah ke sana tanpa perlu diperintah oleh otak sadarku.
"Eh mba Kiran, pulang kuliah mba??" tanya mas Ucup penjual es kelapa muda langgananku
"Iya mas, baru pulang ini, es nya satu mas"
"Pakai gula aren, batu es nya yang banyak, gitu kan mba??"
"Yohaa mas, kayak biasa deh pokoknya" aku meletakkan tas ranselku dan beberapa buku refrensi dari perpustakaan. Beberapa saat kemudian pesananku datang
"Ini mba es nya"
"Terimakasih mas Ucup"
"lama lho mba Kiran nggak maen ke sini, sibuk skripsian ya mba??" tanya mas Ucup
"Iya mas lagi skripsian, lagian udah nggak ada ojek lagi" 
mas Ucup terdiam, raut wajahnya berubah menjadi murung.
"Sabar yo mba" hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut mas Ucup
aku hanya mengangguk pelan, dengan senyuman -entahlah-itu-senyuman atau -ketegaran-yang-dipaksakan, atau mungkin trik terjitu untuk menahan laju bulir bening yang sedari tadi membendung di sudut mataku.


by klmig.com
Aku kembali teringat sepenggal percakapan dari percakapan panjangku tadi di perpustakaan dengan orang itu, orang yang tak ku kenal siapa namanya, mahasiswa dari fakultas mana, angkatan berapa, aku sama sekali tidak tau siapa dia. aku hanya tau dia selalu duduk di bangku pojokan ruang baca perpustakaan, tempat aku biasa duduk dengan setumpukan tugas dan bacaan. Tempat paling tenang menurutku.

"Kamu pernah jatuh cinta??"
"Pernah, bahkan terlalu dalam kamu jatuhnya" 

Kalimat yang simple, tapi membekas dari semua percakapan yang kami lakukan. Siapa dia? Kenapa dia seperti tau semua tentang aku? Padahal aku tidak pernah berjumpa atau kenal dengan dia sebelumnya. Aku hanya melihat dia di pojokan ruang baca perpustakaan. Tak pernah aku melihat dia absen dari sana. Apakah dia selalu di sana? Atau mungkin hanya kebetulan saja aku melihatnya di sana tiap kali aku ke sana? Makhluk sok tau, yang sok tau semua tentang aku.

"Mba Kiran mau makan batagor nggak, biar saya pesenin ke sebelah?" pertanyaan mas Ucup membuyarkan ingatanku tentang Reader Misterius. Iya aku menyebutnya Reader Misterius. Si pembaca misterius di perpustakaan.
"Oh iya mas, boleh, terimakasih lho ini mas, jadi ngerepotin gini saya nya"
"Ndak apa apa lho mba, kayak sama siapa saja mba Kiran ini"

beep..beep
1 message received

"Ran, paket lo udah nyampe, ada di kamar gue, kunci d tempat biasa ya, gue mau jalan dulu, baliknya agak malem"

"Paket apa Ca? kayaknya gue nggak beli apa-apa? anyway, thanks ya, lo ati2 di jalan!!"

"Ini mba Kiran batagornya"
aku memandang semangkok batagor yang disodorkan mas Ucup. Batagor Kuah. Batagor kesukaan dia. Batagor kuah pedas. 
"Lah kenapa mba??" mungkin mas Ucup melihat aku melamun memandang batagor kuah itu.
"Saya salah pesan yo mba?? maaf mba saya  bingung, yang kesukaan mba Kiran itu batagor kuah atau kering, biasanya kan pesan dua-duanya, maaf lho mba" mas Ucup terlihat menyesal.
"Ini kesukaan dia mas" kali ini aku tak bisa lagi menahan butiran bening, aku biarkan ia mengalir begitu saja tanpa berniat menahannya. Aku hanya tertunduk.
"Aduh mba Kiran, maafkan saya lho mba" mas Ucup menyodorkan tissue ke arah ku.
"Nggak apa apa mas" aku mengambil tissue dan mengusapnya dengan cepat ke pipi ku. Entah apa yang ada dipikiran mas Ucup. Aku tidak menyalahkannya, aku saja yang terlalu mendramatisir keadaan. Oh bukan, tepatnya aku masih-terlalu-mengingatnya.

"Kepergian dia begitu cepat mas, bahkan sangat cepat, sampai saya nggak sadar kalau dia itu udah nggak ada mas" tangisku pecah dengan sukses. Aku lihat mas Ucup hanya menunduk, matanya pun berkaca-kaca.
"Iya mba, aku juga nggak menyangka bakal secepat itu, aku kenal beliau dari awal beliau kuliah di sini, orangnya baik, suka ikutan membantu saya mengantarkan pesanan pelanggan kalau lagi rame, walaupun warung ini kecil, tapi alhamdulillah lumayan rame, kok ya masih ada orang yang seperti dia, walaupun mahasiswa berpendidikan, mau lho bergaul dan membantu saya yang cuma penjual es kelapa muda" 
"Dia yang pertama kali mengajak saya ke sini mas, sampai tempat ini jadi tempat wajib yang kami kunjungi setiap hari" aku tersenyum getir mengingatnya.
"Iya, mba cewek pertama dan satu-satunya yang dibawa beliau ke sini" 
"Dan sekarang, saya ke sini sendirian" aku tertawa masam sambil menyeka sisa-sisa air mata

Setahun yang lalu, tepat di depan warung ini. Pada hari yang cerah, pada hari yang sangat ditunggu oleh nya, oleh ku dan oleh keluarganya. Aku masih melihat senyum bahagia dan bangga dari bibirnya, walau dari kejauhan, aku yakin senyum itu akan nyata ku lihat sesampainya dia di hadapanku. senyum bahagia pada hari kelulusannya. Akan tetapi pada hari itu aku harus menyaksikan dia.Dia yang selama ini menemani hari-hariku. Dia yang selama ini menjadi penghuni tetap di hatiku. Dia yang selama ini menjadi penyemangatku. Dia yang selama ini selalu tersenyum kepadaku. Dia seseorang yang telah membuatku jatuh, jatuh terlalu dalam pada cintanya. Iya. Aku harus menyaksikan dia bersimbah darah, meregang nyawa dalam balutan jubah kelulusannya, melihatnya pergi meninggalkanku dengan cara yang amat menyiksa mata dan hatiku, sampai rasa sakitnya hampir mematikanku saat itu juga. Bagaikan mimpi buruk yang sangat buruk, aku ingin segera terbangun dari mimpi itu. Ingin rasanya aku bakar mobil itu, mobil yang menghantam sepeda motornya, membuatnya terpental, membuatnya berdarah dan tak berdaya. Ingin rasanya aku melakukan hal yang sama kepada pengendara mobil itu yang telah membuat dia pergi untuk selamanya dari hidupku, yang telah merebut dia dengan sadis dari sisiku.

Tepat setahun yang lalu, di depan warung ini.
Kali ini aku bisa menjawab pertanyaan Reader Misterius itu.
"Iya, aku pernah jatuh cinta, aku bahkan jatuh terlalu dalam pada cintanya, sampai aku tak sadar bahwa kematian telah merenggutnya dari hidupku, dia pergi sebelum dia tau betapa aku sangat mencintainya. Aku sangat mencintainya. Riyan"

"Hai... boleh duduk di sini?" seseorang menyapaku dan duduk tepat di seberang mejaku
"Kamu??"


by renungandakwahislam.blogspot.com


Jumat, 18 Oktober 2013

Secangkir Cokelat Hangat

Sepotong Cokelat

Sepotong cokelat?? Ah tidak cukup hanya sepotong, aku mau berkotak-kotak cokelat. Secangkir cokelat hangat, sedeeeepp. Hidupku tidak bisa jauh-jauh dari cokelat. Aku rasa mungkin cokelat ini semacam heroin bagiku. Tak mudah menepisnya dari hari-hari ku. Termasuk matamu, your Brown Eyes. Sukses buat aku deg-degan.


Hahaha...konyol


“Derrrrr... hayo ngelamunin apa sambil senyum-senyum?” tepukan ringan Riana ke bahu Putri membuyarkan semua lamunan Putri

“Auuu...sakit Ri” Putri meringis

“Ye maaf Put, lagian masih pagi udah ngelamun aja, ngelamunin apa lu sampe senyum-senyum gitu?? Nakal ya lu!!” Riana merebut cangkir cokelat hangat dari tangan Putri dan menyeruputnya.

“Nggak ada, ahh lu ini reseh amat ya Ri, buat sendiri ah, jangan ngambil punya gue” gerutu Putri

“Ya..ya... miss Coklet” Riana menyodorkan cangkir cokelatnya sambil mencubit pipi Putri

“Riiiiiii....” teriak Putri

Riana pun tertawa melihat ekspresi Putri yang menggelikan. Riana berjalan ke dapur untuk membuat coklat hangat. Sesaat kemudian Riana kembali membawa secangkir coklat hangat dan sekaleng biskuit Khong Guan. 


‘Nih..” Riana menyodorkan kaleng biskuit ke arah Putri

“Oh.. Thanks” Putri menyambut baik kaleng biskuit dari Riana.

“Ri.. ini kan kaleng biskuit gue, kok lu yang nyodorin sih??” Putri baru nyadar

Riana tertawa terbahak-bahak

“Ya lu sih, nggak ngeluarin dari tadi, ya udah gue ambil aja dari lemari lu” statement Riana sambil tertawa

“Dasar lu klepto biskuit” celetuk Putri sambil mengacak-acak rambut Riana.

“Put, gimana kabar brontosaurus lu??” tanya Riana sambil mengambil biskuit dari kalengnya

“Dino, Ri”

“Iya itu si Dinosaurus”

“Dino, Riiiii” Putri mencubit tangan Riana

“Au,, sakit Put, iya iya si Dino, apa kabarnya dia??”

“Baik katanya”

“Syukurlah, nggak ngilang kan dia yang udah jauh di sana??” goda Riana

“Nggak lah, nggak tau maksud gue” Putri tertawa renyah

“Udah ah Ri, jangan bahas dia, ntar gue jadi kangen sama dia, repot kan lu kalau gue tiba-tiba pengin terbang nemuin dia??” Putri tertawa lagi

“Jiyaaaahhh elaaah,, tau lah yang kangen sama pacar. Hmmm LDR ya sekarang!!” lagi-lagi Riana menggoda Putri.

Keduanya tertawa, kamar Putri pun menjadi ramai dengan tawa keduanya.


Selalu ada cerita di balik cokelat hangat. Hai My Brown Eyes wherever you are, remember and know that I miss You so...


Hujan pagi ini cukup membuat suasana semakin dingin, hanya secangkir cokelat hangat dan sekelebat bayangan kamu, menghangatkan suasana. Hahahaha

Gue kangen banget sama lu, gue kangen saat lu masih ada di dekat gue. Sayang sekarang lu udah jauh di sana. 


Bip..bip..bip..


Wah ada message


Kyaaakkk.. My Brown Eyes


>>Dingin

(Iyowha,, Bogor kan emang dingin, dasar dudul ini orang)


Bogor yee??<<


>>Ga nahan dinginnya


*lempar kompor*<<


>>sampe bisa bikin menggigil


Duduk deket kompor aja<<


>>Udah gosong nih, mau gosong lagi??


Hahaha,,biar garing sekalian<<


>>Kangen kamu

(wajib buat kamu kangen sama aku..hahaha)


Me too<<


>>pengin ketemu


Hahaha<<


>>Malah ketawa


Mau ngapain hari ini??<<


>>ga tau masih belum ada rencana, kamu sendiri ngapain hari ini??


Hahaha,,ngapain ya, ga tau dah, tidur kali..hahaha<<


>>Aku sayang kamu,, kangen


Iyaa.. wajib kangen aku itu, aku juga sayang kamu<<

Hey...^^<<


>>Pagi2 senyum gaje,knpa kamu?? Kangen yaa??

(dasar dudul, pake nanya lagi)


Iya..^^<<


>>Ketemu itu obatnya apa??


Hahaha....ketemu itu obatnya kangen

Jiyaaahhh sial, paketnya abis..huhuhu


Well... selamat beraktivitas My Brown Eyes...v^^v



Sepotong cokelat, secangkir cokelat hangat, sekelebat rindu My Brown Eyes...



Secangkir Cokelat Hangat
Sekelebat Rindu untuk My Brown Eyes

Jumat, 13 September 2013

Ada Apa Dengan Bayu 2

Unbelievable Craig David meraung dari handphone Lona, tidak salah lagi itu pasti telepon dari Bayu. Angkat ga ya ini telepon?? Lona mengerenyitkan dahinya. Masih kesel si, tapi mana bisa tidur nyenyak kalau belum clear semuanya.

Lona memencet tombol answer dari ponselnya, tidak seperti biasanya kali ini Lona tidak mengucapkan salam, hanya mengangkat telepon dan diam.

"Assalamualaykum...sayang belum tidur?" suara Bayu dari seberang sana
"Waalaykumsalam..." jawab Lona singkat
"Hei..kenapa belom tidur?? Kamu sehat kan??"
Style Bayu, mau semurka apa pun Lona, ia tetap calm seolah tak terjadi apa-apa. Ah ini orang pura-pura tegar kayak ga ada dosa, emang dikira dia gue bisa tidur tenang apa..
"Menurut kamu??" tanya Lona
"Ya udah, jangan mikir yang macem-macem ya, kamu tidur, besok masih banyak yang harus kamu kerjain, yang jelas aku sayang sama kamu"

Sedikit menenangkan, tapi tetap saja itu bukan jawaban yang diharapkan oleh Lona. Lona bukan tipikal cewek yang bisa menerima jawaban penenang, tapi jawaban asli yang sebenarnya.

"udah deh, kamu ceritain apa maksud omomngan kamu tadi sore, jangan bikin aku kepikiran" Lona mulai merengek
Seperti biasa, Bayu tidak akan pernah bisa menang menghadapi childishnya Lona, ia pun menyerah. Bayu mulai bercerita dari awal. Lona mendengarkan suara dari balik telepon dengan senyum-senyum aneh. Setelah mendengar cerita Bayu, spontan Lona tertawa. Iya Lona tertawa setelah cemberut sepanjangan.

"owh jadi itu tho??"statement Lona singkat
"ya intinya aku sayang sama kamu, Lona"
"aku juga sayang kamu, Bayu"

Hmmm...jadi ceritanya pas Bayu ke dokter dia denger dua cowok lagi ngobrol dan salah satu cowok itu mengeluarkan statement kalau dia pernah jadian sama gue, Lona. Hahaha... Bayu, Bayu... Kalaupun emang itu cowok yang kamu ceritain itu ngakunya pernah pacaran sama aku, mungkin dia orang yang pernah aku ceritain sama kamu..

Whatever that, itu masa lalu, masa yang sekarang itu kamu, dan aku berharap masa depan aku itu juga kamu.. Aamiin
Kalau sudah jelas masalahnya apa, Lona bisa tidur dengan nyenyak, walaupun ia tau hati Bayu di sana belum setenang ia.

Rabu, 11 September 2013

Ada Apa Dengan Bayu??

Aneh banget,, ini bener-bener aneh. Semestinya emang bukan sesuatu yang aneh atau Something New buat gue, mood gue emang selalu turun naek kayak signal GPRS, lebih parah mungkin turun naeknya kayak ingus. Actually...

Heran aja, kenapa tu orang aneh banget, perasaan tadi itu baik-baik aja, kenapa tetiba jadi berubah aneh gitu? gue bener-bener ga tau kenapa, apa jam boci gue tadi siang membuyarkan semua ingatan gue sebelumnya?? Semacam sindrom anemia lokal gitu?? Apa pada saat gue boci terjadi benturan dahsyat antara kepala gue dengan bantal yang tetiba menjelma sebagai tembok beton?? Sehingga menghilangkan ingatan gue beberapa menit sebelumnya?? Mungkin saja pada saat itu memang gue bikin seseorang kesal, murka dan sebagainya?? tell me why?? gue ga bisa mikir jernih pada kondisi seperti itu. 

Sebotol softdrink habis diseruput oleh Lona. Iya Lona yang sedari tadi bingung dengan perubahan sifat Bayu yang mendadak menjadi mellow tapi syarat dengan curiga. Lona kembali menghempaskan tubuh mungilnya di atas kasur. 
"Bay, kamu tau kan aku sekarang  jauh dari kamu, kenapa kamu bikin aku kepikiran gini?" Lona kembali teringat percakapannya dengan Bayu sesaat sebelum Lona mematikan telponnya dengan kasar.
"Kamu ga usah hubungin aku lagi!!" klik...

Oh God... what happened?? jemari mungil Lona lincah menonaktifkan handphonenya. Aku bener-bener ga tau Bay maksud dari pesan kamu yang minta aku untuk cepat-cepat pulang, apa yang mau kamu bilang ke aku?? Tau kah kamu aku di sini jadi ga tenang, pikiran aku jadi mikir yang macem-macem...aahh.... Ga mungkin kalau aku harus pulang sekarang, sedangkan kamu tau besok aku ada agenda penting, dan sekarang kamu sukses bikin aku kepikiran, padahal kamu tau aku paling ga bisa kepikiran sesuatu, minimal aku harus tau itu apa, biar aku ga bertanya-tanya gini. Lona menutup matanya beberapa saat. Berkali-kali ia terlihat mengepalkan tangannya ke dahinya.

Rabu, 10 Juli 2013

Cinta Cinderella Jadi-jadian

“Kalau begitu, biar aku yang pergi”

Pernyataan itu seperti halilintar yang menyambar di siang hari. Membuat rongga dada Kalyla penuh sesak dengan gas karbondioksida. Matanya yang sipit mendadak berkaca-kaca, suaranya tercekat samar dikerongkongan.

“Maksud  kamu apa??” dengan susah payah Kalyla menepis sesak yang menghujamnya dan berkata-kata pada sosok pria yang duduk dihadapannya.

“Lyla...kamu dengerin aku ya..bukannya dulu kita udah pernah membahas ini semua, dan kita udah sepakat akan menjalani kenyataan yang terburuk sekalipun” suara lelaki itu pun mulai mengecil.

“Tapi Yan...apa harus secepat ini??aku......” tangis Kalyla pecah. Ia tak bisa melanjutkan kaimatnya. Hanya menunduk memandangi sepasang sepatu ketsnya. Tak kuasa memandang lawan bicaranya. Riyan yang sedari tadi terlihat tenang dan santai, menatap kosong ke kaleng soft drink yang di genggamnya. Ia pun tak kuasa menatap gadis yang selama ini ia cintai, bahkan untuk sekedar mengusap butiran bening di sudut mata sipit Kalyla pun tangannya tak bisa.

“Cepat atau lambat juga memang harus begini kan??sama-sama sakit juga kan??lebih baik sekarang. kamu dan aku....” kalimat Riyan terhenti, aura tenang Riyan mulai berubah, tatapan matanya tak lagi fokus pada satu objek, gusar mengalihkan pandangan ke berbagai objek di sekelilingnya, apa lagi kalau bukan untuk menahan butiran bening yang sedari tadi juga menyesakkannya. Mencoba tegar di hadapan Kalyla bukan sesuatu yang mudah bagi Riyan. Hatinya tak akan pernah sanggup melihat gadis yang dicintainya terus menerus tersiksa mempertahankan ia. Beberapa waktu mereka lalui dengan hening, semua masih berkutat menata ulang suasana hati masing-masing. Suara Barry Manilow dengan lagu Can’t smile without you bersenandung di kafe itu.

Kamis, 09 Mei 2013

ARJUNA MALAM MINGGUAN.. “Astaghfirullah...Noni...!!!”


Apa jadinya jika lima lelaki dengan latar belakang yang berbeda, aktivitas yang berbeda, orang tua yang berbeda (ya iyalah), makanan favorit yang berbeda tinggal dalam satu atap yang sama, dengan uang sewa dibagi lima sama rata. Hmm ya beginilah contohnya, seperti para penghuni rumah kontrakan ini, rumah kontrakan yang di hak patenkan dengan nama Rumah Arjuna. Bukan karena mereka berlima adalah anggota dari para pandawa, melainkan kelima lelaki ini selalu mengaku bahwa mereka setampan arjuna. Maka jadilah rumah kontrakan ini bernama Rumah Arjuna. (sedikit narsis)

Berikut adalah nama-nama lelaki tampan (kata mereka) penghuni Rumah Arjuna
Si tampan yang pertama bernama Andika Ramadhan, asal dari kota empek-empek, punya hobi olahraga, paling rajin bersih-bersih rumah, paling merdu suara adzannya. Mahasiswa jurusan Ilmu komputer, belakangan punya pekerjaan sampingan sebagai alarm tahajjud bagi The Arjuns (sebutan bagi para penghuni Rumah Arjuna), panggilan kesayangan dari The Arjuns adalah Bang Dika.
Si tampan yang kedua yaitu Erwin Ardian, mahasiswa Tehnik Elektro yang punya hobi bela diri Tapak Suci, paling susah dibangunin, hobi makan martabak keju. Badan atletis tapi paling takut dengan cicak.  Paling hobi menyapu halaman rumah, tapi paling malas mencuci pakaian.
Si tampan yang ketiga adalah Bentar Bara Gencar, cowok cakep asal kota kembang, walaupun terlihat sangar, tetapi ketika nonton K-Drama “Secret Garden” bercucuran air mata. Punya hobi memelihara ikan mas koki, yang diberi nama Okok dan Oki. Tercatat sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan, punya cita-cita menjadi seorang bupati.
Si tampan yang keempat yaitu Septa Hidayat, karena namanya yang unik (read: seperti wanita), The Arjuns sering memanggilnya jeng Septa. Dari namanya bisa ditebak, dia adalah anak ke tujuh. Punya badan sedikit gendut, hobi main futsal, makanan favorit nasi goreng  Pakde Mas’ud depan gang. Ketua divisi Seni di Himpunan Mahasiswa Jurusan Agronomi.