Pages

Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 November 2017

Bukan sebagai Aku

Kamu tahu sudah banyak napas-napas doa yang aku bumbungkan ke angkasa di kala hati merindu.
Berharap ia dibawa angin, dan jatuh tepat di atasmu sebagai rinai hujan.

Pada saat itu, Tuhan dan semesta menitipkan rinduku untukmu.
Bukan sebagai aku, melainkan doa penjagamu.

Aku tahu doaku tidak terlalu berarti. Karena Tuhan dan semesta lebih tangguh menjagamu. Lebih hangat mendekapmu.

Pada tiap tetesan air hujan, aku harap bisa menyejukkanmu. Bukan sebagai aku. Mungkin seberkas kenangan, atau sekelebat bayangan. Atau lebih tepatnya bekas harapan.

Bukan sebagai aku.

Kamis, 26 Oktober 2017

Sudah

Sudah pernah menunggu dengan harapan
Nyatanya yang datang hanya angan semu.
Sudah pernah patah hati, sudah sering terluka..

Dulu pernah mencinta, sekarang seakan buta dan amnesia. 
Wajar. itu reaksi sakit hati!

Untuk luka yang menganga, tidak mudah menutupinya hanya dengan tawa alakadarnya, maaf seadanya, dan guyonan sekenanya. 
Luka tidak sebercanda itu.

Aku ceritakan saja bagaimana pedihnya.
Bukan untuk diratapi, ditangisi, atau dikasihani.
Sungguh, aku tidak butuh itu!
Aku bisa mengasihani diriku sendiri dengan tidak mengemis kasih.

Lukaku kronis. Tiap saat bisa kambuh.
Apa aku butuh obat? Tidak.
Obat hanya menyisakan pahit.

Aku hanya orang bodoh yang dengan suka rela mencungkil kembali luka yang telah mengering.
Setelah aku rasakan sakit dan pedihnya, pelan-pelan kutiup agar lukanya mengering lagi.
Merasa sudah sembuh, aku akan tertawa riang dan lupa dengannya.
Namun kebodohanku terus berulang.

Sampai saat ini, aku tidak ingat sudah berapa kali mencungkil dan meniup lukanya.
Bekasnya saja sudah tidak berbentuk.
seperti perasaanku, yang mendadak jadi bundar.
Terus berputar ke arah yang sama.
Hingga berulang apa yang dirasa.

Minggu, 17 September 2017

Sikap

Aku sudah selesai menuliskan rangkaian kata.
Tidak ada kalimat yang tepat sebagai alasan untuk benar-benar ikhlas melepasmu.

Apa aku bahagia? Iya, aku bahagia.
Apa aku sedih? Iya, aku juga sedih.
Tapi jauh lebih bahagia kamu, dan pernah jauh lebih sedih kamu.

Kehidupan selalu berjalan ke depan.
Yang tinggal di belakang hanya sejarah.
Kenangan tidak bisa dilupakan, tapi perlahan akan hilang dengan kenyataan yang akan terus menemani.

Warnanya akan indah, jauh lebih indah dari kenangan.
Rasanya akan lebih manis dari sekedar bayang-bayang.
Genggamannya akan lebih erat dari keragu-raguan yang pernah ada.
Dekapannya akan lebih hangat dari rangkulan kepura-puraan.

Nikmatilah prosesnya, jangan memaksa segala sesuatunya akan sama. Tapi perlakukan semuanya dengan istimewa.
Kamu memang istimewa. Dan berhak bersama yang istimewa.

Rabu, 02 November 2016

November, Aku bertanya...

"Apakah cinta adalah sebuah gengsi? Yang akan terasa sangat membanggakan jika mendapatkan dia yang selalu didamba? Apakah cinta adalah simbol keangkuhan nafsu? Yang akan terasa sangat memuaskan jika memiliki dia yang sangat dicintai oleh orang lain?"

Dalam ramai atau sepiku, sering kali pertanyaan itu muncul. Pertanyaan yang aku sendiri tidak tau untuk siapa, siapa yang berhak menjawab, siapa yang berhak berkomentar. Atau hanya pertanyaan dalam hati yang jawabannya bisa dijawab nanti-nanti, atau bahkan tidak akan pernah terjawab sampai nanti, sampai mati. Jika pertanyaan ini aku tujukan padamu, bisakah kamu menjawabnya dengan tepat tanpa harus bertanya ke mesin pencari google? Apakah itu pertanyaan yang rumit? Aku rasa tidak. Tapi, layaknya ujian nasional atau tes masuk perguruan tinggi, pasti ada saja soal yang ragu-ragu untuk menjawabnya. Mungkin ini adalah salah satu contoh soal yang ragu-ragu. Aku ragu-ragu pula untuk menanyakan ini padanya.

Jika memang memilikiku hanya sebuah gengsi, semestinya aku adalah gengsi yang mewah dan berkelas. Yang layak dijadikan seperti puteri raja. Namun jika aku hanya simbol keangkuhan atas nama pemenang dari dia yang mencintaiku, pantaslah aku hanya sebagai pajangan etalase. Apa aku berhak mengajukan interupsi? Tidak, aku rasa tidak.

Aku hanya menginginkan orang yang benar-benar menginginkanku. Benar-benar takut kehilanganku. Orang yang bisa memahami aku. Mungkin terlalu manja ketika aku menginginkan semua orang memanjakanku, mengerti aku. Tapi aku rasa itu wajar saja untuk seseorang yang rela melepaskan segala keinginan dan harapnya hanya demi bersamamu.

Apakah secara umum semua memang melalui fase seperti ini? Berada pada fase "apapun yang terjadi, tho kamu sudah menjadi milikku"

Sabtu, 06 Agustus 2016

Itu Bukan Urusanku

Sungguh itu bukan urusanku.
Aku katakan kepadamu. Hidupmu, bahagiamu, kegiatanmu, bahkan perasaanmu. Itu bukan urusanku.

Sungguh itu bukan urusanku.
Aku perjelas kepadamu. Air matamu, senyum khasmu, tawa bahagiamu, gurat bingung di dahimu. Itu semua bukan urusanku.

Sungguh itu bukan urusanku.
Aku tegaskan kepadamu. Kemanapun kamu akan pergi, bersama siapapun, melakukan hal apapun, dan berapa lama pun. Itu juga bukan urusanku.

Aku beritahu satu hal kepadamu.
Aku pernah ada di hatimu. Kamu terekam jelas di hatiku, dan aku mencintaimu dengan sangat. Kemudian aku mengkhianatimu dengan jahat dan biadab.
Itulah yang menjadi urusanku.

Sungguh itu yang menjadi urusanku.
Aku isyaratkan kepadamu dari ujung jarak yang teramat jauh. Itulah yang menjadi urusanku. Yang tidak pernah bisa aku selesaikan.

Kamis, 12 Februari 2015

Semoga Kamu Mengerti

Dear You

Sore hujan di tengah padamnya listrik. Begitu berkecamuk perasaanku sekarang. Antara kesal, marah, sedih, kesepian sampai bosan. Aku rasa sangat cocok dengan keadaan cuaca saat ini, tak menentu; sebentar hujan, menyusul panas kemudian, terang benderang, mendadak gelap selanjutnya. Kepada kamu, aku merasa sangat kesal.

Aku akui bahwa aku sangat merindukanmu. Namun perlahan terkikis oleh semua sikapmu yang-ku rasa-sekarang-mulai-mengabaikanku. Entahlah, mungkin karena jarak dan waktu yang membentang antara aku dan kamu. Bisa saja membuat kita jenuh dengan keadaan yang semacam ini. Aku, kamu tidak tau bagaimana keadaanku sekarang, kan? Lebih buruk dari apa yang kita perkirakan dulu. Sudah kubilang, menempatkanku pada posisi seperti kemarin bukanlah hal yang baik untukku. Kamu tetap memaksa, demi kebaikanku, katamu. Nyatanya sekarang, aku tersiksa, dan itu tanpa kamu menemaniku.

Apalah artinya hanya sapaan dari jauh, via telepon, sms, bbm, whatsapp, email, atau apapun itu. Kenyataannya aku tidak benar-benar tau kesibukanmu, pun juga sebaliknya. Bisa saja aku membohongimu, aku bilang aku sudah duduk manis di depan televisi menonton drama korea kesukaanku, padahal mungkin aku sedang berjalan-jalan dan bersenang-senang dengan temanku. Kamu juga begitu, bisa saja kamu bilang sibuk dengan pekerjaanmu, iya, mungkin sibuk, sibuk dengan yang lainnya. Aku juga tidak tau. Tapi aku selalui percaya, cintamu padaku tidak akan terbagi dengan wanita lain, aku percaya. Namun bagaimana dengan waktumu? Sekarang kamu sudah membaginya dengan yang lain. Sehingga tidak ada lagi waktu untukku.

Maaf berharap lebih atas waktumu yang sangat mahal itu. Kelak jika aku tidak dapat menemuimu lagi, aku minta maaf. Tidak ada pilihan lagi, aku harus kembali menjalani rutinitasku yang lebih pantas kusebut, takdirku. Entahlah, masihkah aku merasa sangat membutuhkanmu ditiap waktuku? Atau keberadaanmu hanya sebagai isyarat bahwa masih ada kamu dihatiku. Jangan membuatku terbiasa dengan ketiadaan dirimu. Sungguh benar aku mencintaimu, sungguh nyata aku merindukanmu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk memenangkan waktumu. Karena yang berharga sekarang adalah waktumu, bukan perasaanku.

Di sini, hujan mulai turun dengan derasnya. Setidaknya suara jatuhnya yang berjamaah itu menemani soreku disaat aku kesepian, rasa marah dan kesalku berangsur-angsur mereda olehnya. Iya, oleh hujan, bukan olehmu. Sepertinya lagu yang dulu aku nyanyikan untukmu sudah tidak bermakna lagi. Hanya sebuah lagu konyol yang kupikir bisa mewakili perasaanku padamu. Kalau dulu, iya. Aku akui bahwa lagu itu memang untukmu, tidak pernah aku menyesal mendendangkannya untukmu, meskipun dengan petikan gitar seadannya, dengan ujung-ujung jari yang memerah bahkan terkelupas. Tapi sekarang hanya lagu pengantar tidur yang terasa menghujam tiap kali teringat padamu. Musnah, aku tidak menyukainya lagi.

Ini bukan tulisan amarah penuh kebencian padamu, hanya ungkapan perasaanku yang kupendam selama ini. Aku tidak bisa mengatakannya langsung kepadamu. Jika itu aku lakukan, aku hanya menambah tekanan yang lebih berat di dalam dada, membuatnya sesak dan berakhir pada tumpahan air mata. Aku sudah tidak mau menangis lagi karenamu, sudah banyak air mataku yang terkuras karenamu. Terutama karena menahan rindu padamu. Maaf, aku tidak mau menangis lagi. Kalaupun rindu ini tidak akan berujung, aku akan mencoba tegar tanpa air mata.

Satu hal yang perlu kamu tau, aku sekarang sudah jauh lebih keras kepala dari yang kamu tau dulu. Tekanan yang bertubi-tubi datang padaku membuatku harus bertahan. Jika aku lemah, maka aku akan musnah bagai debu yang ditiup oleh angin. Sikapmu yang seolah tidak mempedulikanku atau mungkin terpaksa mengabaikanku karena keadaanmu, tidak sebanding dengan benturan-benturan yang aku alami selama ini. Jangan khawatirkan keadaanku. Jika memang aku harus terbiasa tanpamu, aku akan mencobanya.

Nanti saja kamu pulang, kalau waktumu sudah bisa kubeli. Di sini aku akan mengumpulkan bekal yang cukup untuk menebus dan membeli waktumu yang harganya sangat mahal itu. Jika aku sudah berhasil nanti, aku tidak mau mendengar penolakanmu untuk pulang, walaupun aku tidak tau kapan waktu itu akan tiba. Aku tidak ingin berdebat denganmu perkara waktu. Sudah kupastikan aku tidak mau mengalah, dan kamu tak akan pernah kalah. Lebih baik jangan pernah membahas tentang waktu. Biarkan saja dia berjalan sesuai perintah tuhannya. Kamu dan aku tidak perlu mengusiknya. Lanjutkan hidupmu dengan segala rutinitasmu, sementara aku di sini akan menjalani takdirku sendiri.

Tetap jaga kesehatanmu di sana, di tengah cuaca tak menentu seperti sekarang. Karena aku tidak bisa menjagamu dari jauh. Aku tidak akan mengganggu waktumu, maafkan jika aku terlihat tidak mengerti keadaanmu, sungguh aku sudah coba untuk mengerti. Tapi aku tidak bisa menahan rasa sesak yang ada di dadaku. Maafkan ketidaknyamanan ini, aku memberikan waktu untuk kita merenungi ini bersama, perkara waktu. Kamu dan aku membutuhkan waktu untuk sendiri, agar menyadari bahwa waktu kita lebih penting.

Aku yang tak pernah ada waktu untuk mengerti kamu...:(

Jumat, 09 Januari 2015

Egois

Kadang cinta membuatku selalu menuntutmu untuk selalu memahamiku, aku hanya tidak ingin diabaikan olehmu, sudah cukup lama aku merasa terabaikan, tak dibutuhkan. Lebih tepatnya, aku tidak ingin kehilangan perhatian dan pengertianmu walau hanya seujung kuku atau sekilas pandangan...



Egois, iya, egois memang, tapi itulah aku. Aku tidak pernah mau mengalah dalam perkara hati dan kebebasan..



Aku ingin seperti elang yang bisa terbang bebas ke manapun aku suka, tapi aku juga ingin seperti cenderawasih, yang indah dan dilindungi. Terlalu banyak mauku, aku harap kamu tau.



Sebuah kemustahilan bagiku untuk mengalah, karena aku terlahir sebagai antagonis yang egois.



Rabu, 24 Desember 2014

Waktu yang Berbeda

Aku seperti sang malam yang temaram
Berteman dengan jutaan bintang
Ada waktu di mana akan menemukan
kenyamanan; hadirnya sang purnama

Kamu seperti siang yang benderang
Berkawan dengan desiran angin
Ada waktu di mana akan menemukan
keceriaan; hadirnya sang mentari

Aku dan kamu kamu bertemu dalam waktu yang singkat
Aku dan kamu berasal dari waktu yang berbeda; tak saling sapa, tak saling jamah
Kita dipertemukan pada satu waktu di puncak rindu; senja saga
Berpisah dan memulai rindu kembali pada satu pertemuan; fajar merona

Jumat, 19 Desember 2014

Selalu Gagal Untuk Tak Jatuh Berkali-kali Pada Cintamu

Rasa apa ini? Terlalu aneh pada indera
Di luar kendali pikiran
Jika disebut bencana, kenapa bagaikan candu?

Sakit menyerang; ada rasa yang terhalang, ada rindu yang terlalu, ada cinta yang menggebu.

Seolah tak berarti, tak dirasa.
Ternyata terbiasa pada kesakitan; terselip nyaman, berbalut hangat, ditemani tentram.

Hal gila dan terbodoh
Mencoba berlari sejauhnya; menghalau aroma, menepis bayang, menyangkal rasa, membunuh rindu, mengubur cinta

Pada akhir langkah
Selalu gagal untuk tak jatuh berkali-kali pada cintamu.

Senin, 15 Desember 2014

Untuk Kamu

Untuk kamu yang kucintai dalam diam...
Mungkin kediamanku membuatmu tak merasa bahwa aku mencintaimu, mungkin kamu abaikan rasaku. Percayalah disetiap waktuku terselip doa untukmu, untuk hidup dan bahagiamu. Yakinlah bahwa bisikan dalam hatimu yang melafadzkan namaku adalah benar. Aku mencintaimu.

Untuk kamu yang kucintai dari jauh..
Ratusan bahkan ribuan kilometer yang memisahkan kita, bahkan mungkin aku dan kamu tidak saling tau keberadaan masing-masing, tapi aku selalu percaya bahwa kelak terminal itu akan mempertemukan kita kembali. Aku tak berharap kamu datang dengan sekuntum mawar merah, aku hanya berdoa kelak bisa melihatmu lagi tersenyum sambil berkata "aku pulang, doamu menuntunku kembali kepadamu"

Kelak, saat kamu lelah dan hampir menyerah, buka kembali memori lama tentang kita, di mana kita bangun satu persatu pondasi harapan dan cita-cita kita. Ada aku di sini yang menunggumu pulang dengan harapan besar, ada secangkir kopi hangat menunggu untuk kamu seruput. Lelahmu akan terbayar, bangkitlah. Ingat aku, perjuangkan aku dan cita-citamu.

Mungkin sekarang aku dan kamu berada pada titik yang paling bawah dari roda hidup yang berputar. Jangan menyerah, terus berdiri dan tegar, arungi roda itu sampai kita kembali dipuncak. Abaikan suara-suara yang selalu merendahkan kita, mereka tidak berhak menghentikan langkah juang kita. Kamu pernah bilang kepadaku hadapi semuanya dengan senyuman, Tuhan maha baik jangan berputus asa pada belas kasihNya. Itu yang membuatku kuat dan bertahan di sini.

Untuk kamu yang kusayangi, jika nanti aku tak mampu untuk menunggu lagi, ingatkan aku bahwa kamu masih menyimpan jutaan rindu yang teramat untukku, berikan itu satu persatu setiap kali aku mulai lelah, biarkan ia menjadi penyemangat hari-hariku tanpa hadirmu di sini. Tegaskan padaku bahwa ada kamu yang selalu berjuang untukku, untuk cita-cita harapan kita yang telah kita goreskan pada batu kehidupan.

Untuk kamu yang sekarang aku tidak tau di mana keberadaannya, aku harap kamu masih mengingat tiap detail jalan pulang, jalan setapak yang kamu lewati demi kita. Keputusanku untuk tinggal dan keputusanmu untuk pergi adalah takdirNya, jadikan itu penguatmu untuk terus berdiri dan berlari. Berkarya di hadapan mereka, agar kelak mereka tau bahwa kamu bersungguh-sungguh dalam ikhtiarmu menggapaiku.

Aku di sini berusaha menjalani kerasnya hidup dengan semangat dan kesungguhan, aku meyakini bahwa Tuhanku terus bersamaku, menjagaku sampai nanti kamu kembali menemaniku di sini, saat Dia percaya bahwa kamu bisa menjaga dan mencintaiku sampai nanti hidup kembali di taman firdausNya.

Untuk kamu yang selalu tersiksa dalam merinduku, pegang erat keyakinanmu bahwa apa yang ditakdirkan untukmu akan menjadi milikmu walau seberat apapun halangan dan rintangan untuk mendapatkannya, itu pasti hanya untukmu. Bukankah keimanan pun adalah keyakinan? Jangan pernah kamu berpikir untuk berhenti, karena semua pasti usai ketika kamu berpikir untuk "menyerah"

Jika waktu itu telah tiba, segerelah kembali. Bawa semua bekalmu, kedewasaanmu dan rasa rindumu. Untukmu, telah aku siapkan sebuah istana yang singgasananya terbuat dari kepingan rindu bermahkotakan cinta dan beralaskan kasih sayang. Telah aku siapkan secawan air bening mewakili kesetianku menunggumu. Semoga menawarkan dahagamu setelah lelah melewati jalanan panjang yang tak bersahabat. Lihat mataku, ada binar bahagia di sana, tatapan hangat penuh harap agar kamu tau bahwa aku menunggumu dalam sepi, mendoakanmu dalam rindu, dan mendekapmu dalam hangat kesetiaan yang aku pu

Untuk kamu yang kucintai dalam diam, temui aku di akhir sujudmu, katakan padaNya bahwa kamu merindukanku, mintalah tuntunannya agar jalanmu menujuku semakin dekat. Aku menitipkan semua rinduku untukmu melalui belas kasihNya. Aku mencintaimu atas izin hati ciptaanNya.

Aku yang mencintaimu dalam diam

Rabu, 03 Desember 2014

Pesta Telah Usai

Karena sesungguhnya aku bersembunyi di balik semboyan "bersama selamanya"
Semboyan bagi hati-hati yang beragam untuk berikrar menjadi satu dalam suka dan duka...

Karena sesungguhnya aku berusaha membohongi kenyataan bahwa kebersamaan yang indah itu sekarang kian memudar...

Mungkin memang benar kita hanya bertemu dan larut dalam kemegahan pesta para bangsawan. Ingat, tidak ada pesta yang tak usai...

Aku berjalan sendiri menyusuri dinginnya malam, tepat pada saat gemerlap lampu pesta dimatikan. Seketika sepi, tak ada seorangpun yang kulihat di pesta itu berjalan beriringan denganku.

Jika ini hanya mimpi, ini adalah mimpi terindah yang aku alami.
Jika ini kenyataan, ini kenyataan yang paling menyedihkan bagìku.

Keramaian hanya mimpi, kenyataannya adalah sendiri dan sepi

Aku merindu...

Rabu, 12 November 2014

Penawaran


Kamu bertanya tentang cinta?
jawabannya bisa kamu dapat saat kamu merasakan hembusan angin...
Bagaimana rasanya?
Jangan kamu tanyakan lagi tentang cinta padaku
jawabanku tidak akan pernah memuaskanmu

Kamu lihat jendela kaca itu
dekati, sibak tirainya
Apa yang kamu lihat?
Jangan kamu tanyakan lagi padaku tentang apa yang kamu lihat
karena aku tidak melihatnya

Kamu meminta aku untuk menemanimu?
berapa banyak uang yang kamu punya untuk membeli waktuku?
datanglah padaku besok, setelah keangkuhanmu mulai memudar
setelah kamu lelah bergantungan di langit
dan kembali berpijak di bumi...

Rabu, 22 Oktober 2014

Permohonan


Serpihan rindu yang terserak tak sempat bersatu
Pilinan rasa yang terikat kuat terurai oleh kenyataan
Air bening melesat sejauh mata memandang
bermuara ke samudera derita

Di ujung sana, dua tangan menengadah
meminta hujan turun dengan deras
Di sini, ada hati yang terbakar api dari neraka dunia
tinggal puing-puing menyedihkan

Sungguh, tak bisakah kau tengok aku?
Aku tak sanggup seperti ini, sangat sakit
Sungguh, tak bisakah kau tawarkan racun ini?
Aku tak sanggup menelannya, mematikan

Kau yang kusebut cinta, tetaplah di sini; di hati yang terdalam
Kau yang kusebut rindu, dekap erat aku; lindungi tubuh ringkih ini
Kau yang kusebut keajaiban, menjelmalah; himpunlah cinta ini,
satukan serpihan rindu ini, kunci keduanya di dalam hati.

Selasa, 14 Oktober 2014

Esensi Hati yang Terluka...


Berada pada situasi yang nampaknya sudah tidak aman lagi. Bahkan untuk sedikit menoleh dan mengedipkan mata pun tak kuasa. Hanya turun naik rongga dada saja sebagai efek dari bernapas yang masih bisa bebas bergerak. Mungkin ini adalah pengandaian yang berlebihan, namun sebenarnya tidak berlebihan sama sekali. Keadaan yang sebenarnya jauh lebih mengerikan dari pengandaian ini. Kondisi nyata lebih mempersempit ruang gerak, karena ini berhubungan dengan kebebasan hati. Terlalu klasik jika berbicara tentang hati? Tidak juga, siapa pun manusia di muka bumi ini tidak bisa menafikkan keberadaan hati sebagai pusat koordinasi keseluruhan raga. Pengatur etika, attitude dan estetika. Hati yang menggerakkan perbuatan yang baik atau buruk. Hati yang mempunyai kendali atas amarah, benci, kasih sayang dan cinta. Menggenngam dan melepas penat, penyimpan rahasia nomor satu di dunia. Hati adalah organ paling jujur sejagat raya, hanya hati yang tak  pernah berdusta, walaupun terkadang ia tidak bisa berkata-kata, sejujurnya ia meronta ketika kata-katanya di sampaikan dengan tidak benar oleh lisan yang lancang. Itulah hati.

Sekarang yang menjadi sumber masalahnya adalah ketika hati berbicara tentang kejujuran yang ia punya, tentang rahasia yang ia pendam atas permintaan manusia, namun setelah diungkapkan kebenarannya ternyata hanya tekanan dan caci maki yang ia dapat, tidak kah itu terlalu jahat untuknya? Apakah semahal itu harga yang harus ia bayar atas kejujuran dan rahasia yang ia miliki? Lagi-lagi ia mungkin bisa bersabar menerima itu, mungkin ia akan tetap membayar mahalnya kejujuran yang ia ungkapkan. Tapi apakah sudah lunas dan tuntas perkara yang dialami sang hati? Seharusnya sudah, seharusnya ia sudah bebas dan menghirup aroma baru yang segar, mengumpulkan kembali puing-puing rahasia yang bertebaran di alam yang akan disusunnya kembali sebagai setumpuk rahasia indah yang akan ia pendam kembali untuk dirinya sendiri. Iya, seharusnya demikian, tapi kenyataan tidak demikian. Ia dituntut untuk berbohong di depan khalayak ramai demi eksistensi kaum mayoritas agar tetap terjaga imagenya. Setelah ia mengungkap kebenaran dan fakta yang didesak oleh manusia, ia dituntut untuk berbohong, menyembunyikan dan memendam kembali kebenaran itu sedalm-dalamnya, karena apa yang diungkapkannya akan merugikan kaum mayoritas. Hal ini sukses membuat hati bertanya-tanya tentang keberadaannya bagi mereka, apakah hanya sebagai alat pelampiasan amarah yang bisa diperlakukan seenaknya? Dituntut sangsi berat atas kejujurannya yang menyakitkan? Dipaksa berbohong lagi demi nama baik? Oh, sungguh sudah mati kebebasan itu. Kebebasan mengungkapkan kebenaran. Ternyata kehidupan nyata lebih keras dan kejam dibandingkan kehidupan dunia politik.

Akhirnya sang hati harus kembali merajut benang-benang untuk menjahit sendiri sobekan-sobekan luka yang tak beraturan di tubuhnya, menjahitnya agar kembali tertutup walaupun tidak bisa utuh dan mulus seperti biasanya. Akan ada cacat di sana-sini akibat kurang sempurnanya jahitan luka, atau mungkin karena lukanya terlalu lebar dan dalam. Entahlah, yang jelas luka itu akan membekas walaupun hanya segaris. Hati sudah tidak peduli lagi tentang nasibnya nanti akan seperti apa, yang jelas ia akan terus hidup demi jiwa yang menaungi keberadaannya yang tepat berada di rongga perut sebelah kanan di bawah diafragma manusia. Terlalu sayang ia kepada manusia yang menaunginya, ia akan kembali melaksanakan rutinitasnya sebagai penyimpan rahasia ulung di seluruh jagat, dan pemegang kejujuran paling jujur di dunia. Ia akan terus berusaha menghibur sang pemiliknya agar tetap bangkit walaupun sangat sulit, sangat berat. Hati selalu meminta kepada Zat yang telah menciptakannya, yang telah menitipkannya pada raga manusia agar tetap tegar sampai nanti saat ia sudah harus berhenti melaksanakan tugasnya, sampai tempat yang menaunginya sudah tidak bernyawa lagi, maka penderitaan dan tugasnya pun akan berakhir.

Jumat, 10 Oktober 2014

Adegan Romantis di Pagi Hari

Embun di pagi hari itu hanya sementara. Sementara untuk menyejukkan pagi, tak akan lama, ia pun akan segera menghilang seiring munculnya sang mentari dari balik peraduannya. Perlahan embun menguap dan menghilang, tidak jarang pula ada yang jatuh ke tanah karena dahan yang rapuh atau mungkin tepian daun yang tak sanggup menahannya. Daun yang selalu disinggahi embun tak kuasa menahannya untuk tidak pergi. Hanya berharap besok masih bisa disinggahi embun sang penyejuk.

Menakjubkan. Hanya satu kata itu yang dapat aku ucapkan melihat adegan itu setiap pagi. Aku bukan orang yang romantis atau puitis, tetapi merasa romantis melihat adegan ini. Ada janji tersirat yang tak terucap di antara daun dan embun. Janji untuk setia menanti dan janji untuk segera kembali. Janji memegang teguh kesetian selama bumi berotasi, selama siang memanjang dan malam memayungi, hingga kembali bertemu di pagi hari. Romantis sekali, pertemuan sekejap secara sembunyi-sembunyi dari sang mentari, bertegur sapa sesaat, bergurau sambil berpadu menyejukkan pagi. Berbisik dengan bahasa yang tidak bisa diterjemahkan oleh kamus atau mesin penterjemah manapun, bahasa isyarat yang disampaikan oleh bisikan angin. Di penghujung pisah, janji itu terikrar kembali, meskipun dalam sunyi, tanpa terucap hanya tersirat, tapi tak ada yang berkhianat.

Lamunanku melayang jauh ke masa lalu, melewati jutaan detik yang telah berlalu, menyinggahi hari-hari penuh tawa dan air mata, mengulang lukisan senyuman-senyuman pembangkit semangat. Ini semacam berlayar mengarungi berbagai fase di masa itu, dan berlabuh di sana, di tempat aku dan kamu. Di tempat titik temu pandanganku dan pandanganmu.

Aneh, semestinya aku bisa seperti daun yang bisa ikhlas melepas sang embun pergi karena keberadaannya hanya sementara. Harusnya aku bisa seperti daun, yang bisa sabar menanti sang embun di esok hari, menantinya menepati janji untuk datang kembali atas nama kesejukkan. Harusnya aku bisa seperti daun, yang tidak pernah marah ketika terik mentari pagi merenggut sang embun darinya, atau sepoi angin yang menggoyangkan dahan sehingga embun meleset dan jatuh ke tanah. Harusnya aku bisa seperti daun, yang tetap tegar, bahkan bisa tetap berfotosintesis demi bagian tubuh yang lain, demi organisme yang lainnya. Harusnya aku bisa seperti daun.

Ahhh, aku ternyata tidak setegar helaian daun. Aku terlalu lemah dan cengeng. Aku menagis pilu ketika dia perlahan pergi. Aku terlalu egois karena menyalahkan keadaan atas kepergiannya. Aku terpuruk tak berdaya di sudut ruang hampa, tanpa celah, tanpa pintu dan jendela, gelap dan hanya ditemani sinar redup dari mata yang mulai membengkak akibat deraian air mata. Aku tak berbentuk saat dia pergi.

Aku kalah dengan helaian daun, walaupun sejatinya aku lebih sempurna darinya. Sempurna karena aku memiliki hati yang penuh dengan cinta. Cinta yang luar biasa untuk dia.

Daun kalah denganku pada perkara rindu, karena aku banyak menyimpan potongan-potongan rindu untuk dia yang akan aku berikan padanya saat aku menjumpainya, tepat saat aku menatap matanya. Untuk urusan sayang, sekali lagi aku menang dari helaian daun, karena rasa sayangku kepadanya melebihi sayangnya daun kepada sang embun. Seperti sayangnya mentari kepada semua makhluk bumi. Walaupun kadang terik neraka menyengat, namun ada kalanya menghangatkan. Iya, hanya menghangatkan dan tidak membakar. Menghangatkan hati-hati yang dingin tanpa cinta.

Minggu, 05 Oktober 2014

Tuhan Tidak Pergi


Tuhan, aku tau ini semua renacanaMu. Jika terjadi kesalahan, itu murni karena kesalahan manusia. Engkau tidak pernah salah menentukan setiap ketetapan pada makhlukMu. Mungkin aku yang menentang takdirmu, dan sekarang harus menerima segala konsekuensinya. Tuhan, aku tau Engkau maha pengasih dan penyayang. Engkau maha segalanya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Engkau berkehendak. Engkau tidak pernah meninggalkan hambaMu. Engkau tetap memberikan yang terbaik untuk hamba-hambaMu. Meskipun mereka selalu mendurhakaiMu. Engkau tetap memberi mereka hidup dan kenikmatan lainnya agar mereka kembali sadar dan kembali ke jalanMu. Tidak ada kerugian apapun padaMu atas kedurhakaan mereka, sebutir debu pun Engkau tidak merasa rugi.

Tuhan, masihkah aku layak bersimpuh di depanMu? Aku berlumur dosa, mungkinkah aku akan kembali fitrah, Tuhan? Tidak kah aku harus mendengar cibiran-cibiran mereka? Tuhan, aku pernah membaca tentang Khalifah Ali bin Abi Thalib. Para sahabat berkata bahwa saudara kerabat dari Ali bin Abi Thalib RA sangatlah banyak. Tapi Syaidina Ali menjawab “Lihat saja saat aku terkena musibah”. Aku tau maksudnya. Jika kita mau tau seberapa banyak orang yang peduli dan sayang dengan kita, lihat pada saat kita terpuruk. Siapa yang mau mendekati kita. Kalau kita dalam keadaan jaya dan bahagia, sudah pasti banyak yang ikut bahagia bersama kita, tetapi jika kita terpuruk, ada berapa orang yang ikut menangis dan tinggal di samping kita. Tuhan, jika aku bahagia aku banyak sekali teman yang tertawa bersamaku. Sekarang aku terpuruk, aku terjatuh, terjerembab dan sekarat. Aku menikmatinya sendiri, Tuhan. Tidak ada tangis dari mereka yang menemaniku. Berbeda sekali saat aku tertawa, banyak yang turut serta bersamaku. Apa aku bersedih? Sudah banyak air mataku yang tertumpah, aku sudah tidak ada air mata lagi untuk menangisi kesendirianku karena tidak adanya mereka bersamaku. Sudah cukup aku menangisi semuanya dihadapanMu, Tuhan. Hanya Engkau yang selalu mendengarkanku, tidak pernah meninggalkanku dan yang selalu menyayangiku.

Tuhan, jika ini yang harus aku jalani, aku akan menjalaninya. Aku tau ini sangat berat, sampai saat ini aku masih belum tau bagaimana caraku melewatinya. Tuhan, aku tidak memintaMu untuk menghilangkan semua ini dari hidupku, terlalu egois aku menawarnya padaMu. Aku hanya minta hatiku lebih kuat dari sebelumnya, ragaku kokoh dari biasanya, jiwaku yang lapang dari sebelumnya. Agar aku bisa melewati ini semua walaupun sendiri, tanpa mereka bersamaku. Secara tersurat mungkin aku sendiri, tapi aku tau Engkau menyertai setiap langkahku dan menuntunku ke jalanMu. Kuatkan hati ini, Tuhan. Kuatkan hati ini untuk tegar atas terpaan badai mengerikan dari makhlukMu. Tak penting aku baik di mata mereka, sejatinya hanya Engkau yang tau aku. Hanya Engkau yang tau kesungguhan hatiku. Aku hanya ingin ampunan dan kasih sayangMU. Jangan pernah tinggalkan aku, Tuhan. Aku akan kembali mengejarMu walaupun jalan menujuMu sangat terjal dan berduri, walaupun aku harus tertatih dan terseok-seok aku akan tetap berlari menujuMu. Tidak peduli betapa berat ujianMu yang datang dari makhlukMu.

Aku hanya meminta hati yang kuat. Jiwa yang lapang dan tegar untuk menujuMu, Tuhan

Rabu, 17 September 2014

Semesta Keren

Dear Semesta,

Hai semesta, apa kabar? Sibuk kah menemani yang lain? Aku bisa cemburu ketika kau sudah tidak mempedulikan aku lagi. Baiklah aku tidak akan cemburu, aku hanya ingin menitipkan sesuatu untukmu. Sebenarnya bukan sesuatu yang berharga, hanya ucapan terimakasih saja. Aku ingin berterimakasih kepada prajurit-prajuritmu. Mereka telah menemaniku selama ini.

Pertama, aku ingin mengucapkan terimakasih kepada prajuritmu sang matahari. Dia telah menghangatkan hari-hariku, menerangi siangku, memberikan energi bagi hidupku. Keberadaannya mengindahkan duniaku. Rantai kehidupan terus berpilin, berikatan selaras. Bahkan ada spesies bunga yang memakai namanya, bunga matahari. Begitu cantik prajuritmu yang satu ini, semesta. Banyak yang mengeluh jika panasmu begitu terik, termasuk aku juga. Tapi tidak mengalahkan rasa syukurku dengan hadirmu. Tetap bersinar ya matahari.

Kedua, aku ingin berterimakasih kepada sang pagi. Pagi ini pun aku rasa tidak akan indah tanpa hadirnya sang matahari. Pagi akan hambar, dingin, bahkan mencekam tanpa hadirnya matahari. Pagi memberikan cerita baru bagiku. Entah itu episode lanjutan dari kemarin yang begitu indah, atau hal yang baru akan dimulai bersamaan dengan munculnya pagi. Hal baru yang belum diketahui, apakah indah atau menyedihkan. Aku sebut sang pagi adalah awal sebuah misteri.

Ketiga, aku ingin mengucapkan terimakasih kepada sang embun. Hadirnya menyejukkan hati dan perasaan. Seperti cinta yang ditawarkan dalam sebuah cawan kristal berbentuk hati, yang bening tanpa keruh, yang suci tanpa cela yang murni tanpa tuba. Walaupun hanya sementara, tapi begitu membekas, tak pernah marah walaupun keberadaannya harus lenyap ketika sang matahari muncul. Terpaksa menghilang meninggalkan sang pagi, namun tepat janji untuk datang di esok hari sebelum menghilang kembali karena hadirnya sang matahari. Terimakasih embun, kau ajarkan aku arti pengorbanan, kau ajarkan aku arti mencinta tanpa balas dan dendam. Kau ajarkan aku arti setia tanpa keluh. Kau ajarkan aku tersenyum dalam lara. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, embun.

Selanjutnya, aku masih punya banyak terimakasih yang ingin ku sampaikan kepada prajuritmu wahai semesta. Aku masih boleh kan melanjutkannya? Kau masih ingin mendengarkannya, kan? Iya, seperti biasa, hanya kau yang mau mendengarkan semua keluh kesahku selama ini. Kau dan prajurit-prajuritmu, semesta. Keempat, aku berterimakasih kepada sahabat setia langit. Awan dan angin. Awan putih yang mempunyai bentuk-bentuk unik menemani imajinasiku setiap kali aku menengadahkan wajahku ke langit. Dia yang berarak bersama belahan jiwanya sang angin. Kemana pun angin berhembus, dia akan mengikutinya. Tanpa pernah bertanya “akan kemana kita?”. Dia juga yang selalu membawa signal munculnya sang sahabatku. Kau pasti tau siapa sahabatku, kan? Iya, sahabatku sang hujan. Awan, terimakasih kau melengkapi duniaku dengan membawa hujanku. Jika hujan turun, ada aku yang menari girang di bawahnya. Di bawah rinai hujan yang kau bawa bersama sang angin.

Kelima, ada sang hujan yang sangat aku rindu kehadirannya. Terimakasih hujan. Gerimis atau derasmu, sama saja bagiku. Sama-sama menambah syahdu hatiku. Tiap tetesanmu yang membasahi bumiku, membasahi kulitku dan segalaku memberikan kesejukkan di tengah hiruk pikuk masalah yang menjeratku. Menyegarkan raga rapuhku yang mulai melusuh, menumbuhkan kembali benih-benih harapan yang mulai menghilang haranya. Perlahan kau sirami lagi, hingga kembali muncul tunas baru, tunas muda yang akan tumbuh menjadi besar, walaupun tidak tau apakah nanti dia akan bertahan, atau malah patah dan mati akibat keadaan atau tangan-tangan jahil manusia lainnya. Terimakasih hujan atas hadirmu. Tau kah kamu, setelah kamu berlalu akan ada lengkungan bumi yang indah. Aku biasanya menyebutnya perisai bumi dengan tujuh warna magic, dia adalah pelangi.

Pelangi, kamu adalah urutan selanjutnya yang ingin aku ucapkan terimakasih. Tadinya, aku mulai risau ketika hujan mulai mereda karena aku tidak bisa menumpahkan air mataku bersama tetesannya, atau aku tidak bisa tertawa bahagia bersamaan dengan derasnya. Tapi hujan begitu bijaksana, dia tidak membiarkan aku kesepian. Dia menitipkan kamu, tujuh warna ajaib perisai bumi. Pelangi. Dia membiarkanmu beberapa saat menghiasi langitku, menemaniku melukis senyum simetri dikedua sudut bibirku. Hujan mengisyaratkan “aku akan pergi untuk sementara, aku akan menitipkan pelangi untukmu. Ingat ya, pelangi adalah janjiku untukmu, aku pasti akan datang lagi untuk menemanimu, jangan bersedih”. Hujan dan pelangi, terimakasih.

Senja, aku berterimakasih kepadamu. Kehadiranmu mengisyaratkan bahwa tiada pesta yang tak akan usai, tak ada badai yang tak berlalu, tak ada hidup yang tak akan mati, tak ada yang abadi. Ketika aku bersedih, aku yakin kesedihanku akan segera menghilang dan akan berganti dengan kebahagiaan yang tiada tara. Begitu juga sebaliknya, ketika aku bahagia, kamu mengisyaratkan jangan terlena dengan kebahagiaan yang melambungkanku saat ini, bisa jadi dalam sekejap aku akan terhempas bahkan terjerembab ke dalam jurang yang dalam. Kamu mengajarkan aku arti bersyukur dan sederhana. Senja, kehadiranmu menandakan bahwa kita hidup beriringan dengan waktu. Jika bukan kita yang mengendalikan waktu, maka waktu yang akan mempermainkan kita. Hadirmu hanya sekejap, hanya sebagai tanda dan peringatan. Terimakasih karena kamu selalu mengingatkanku, tak pernah bosan tiap harinya. Tidak hanya itu, rona merahmu begitu indah menghiasi langit sore. Langit yang lelah menaungi berjuta-juta makhluk di alam ini, langit tak mengeluh karena ada senja yang siap membawanya istirahat diperaduannya. Kompak.

Hei semesta, begitu kompak prajurit-prajuritmu ini, aku sampai bingung harus berterimakasih dengan cara apa lagi. Hanya barisan tulisan ucapan terimakasih ini yang bisa aku sampaikan. Tolong disampaikan ya, aku rasa mereka tidak bisa mendengarkanku karena terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku tau mereka tidak hanya mengindahkan hari-hariku saja, tapi hari-hari dia dan mereka juga. Jadi, aku titipkan padamu saja yaa..

Ada satu rumpun prajuritmu lagi yang ingin aku ucapkan terimakasih. Dia, prajuritmu yang bernama malam beserta bulan dan bintangnya. Malam sang penguasa mimpi, pemeluk rindu, pelabuh lelah, pemberi tenang. Bulan dan bintang penyemaraknya, anggotanya yang menjadikannya indah dan cantik. Tempat orang-orang menggantungkan mimpi-mimpinya, termasuk aku. Malam tempatku melabuhkan lelah, menampung rinduku dan menyampaikannya lewat bulan dan bintang. Malam yang memeluk erat mimpi-mimpiku, menemaniku sampai aku kembali menjumpai sang pagi dan matahari. Malam yang menyimpulkan tiap episode kisahku, memuhasabah diriku, meremajai sel-sel otakku yang mulai mati. Malam mengajarkanku arti mengalah pada waktu, mendewasakanku walaupun aku tak bisa meninggalkan sifat kekanak-kanakanku. Tapi malam tak pernah lelah mendekapku agar aku tak terjatuh. Mengajarkanku tetap tegar dan sabar dalam gelap, sabar karena esok pasti ada matahari yang kembali menemani dan menerangi hari-hariku. Aku akan kembali melihat pagi lengkap dengan embun sekejapnya. Aku percaya akan janji sang malam, malam tak pernah ingkar janji.

Semesta, terimakasih telah memberikanku prajurit-prajuritmu yang luar biasa. Aku tak kesepian. Tau kah kamu, hanya kepadamu aku mampu bercerita semuanya. Hanya kamu yang mau mendengarkanku tanpa pernah mengeluh. Kamu memang tak menjawab pertanyaan-pertanyaanku, tapi kamu mengutus prajurit-prajuritmu untuk menemani ku, menuntunku untuk menemukan jawaban dari  semua pertanyaanku. Terimakasih semesta, terimakasih Tuhan kau telah ciptakan semesta yang terlalu keren untukku. Dua kata untukmu, semesta. Semesta Keren!!! v^^v



_Pecinta Semesta_


Kamis, 24 April 2014

Ini Bukan Hujan Perpisahan

Mendung kembali menggelayuti langit yang semakin gelap. Sepertinya akan hujan. Entah mengapa hujan yang akan turun hari ini bukan seperti hujan-hujan kemarin yang selalu aku nantikan dengan hati berbunga. Kali ini ada yang lain, aku rasa mungkin sebuah isyarat. Iya isyarat. Isyarat yang mengharuskan aku untuk bersiap, berkemas. Karena mungkin ini waktu terakhir bagi ku. Entah dalam hal apa, tapi aku merasakan ada perayaan perpisahan di sana. Perpisahan untuk selamanya. Mungkin. Tapi jauh dari lubuk hati yang paling dalam, ada semburat gelisah.

Aku tak ingin berpisah, walaupun sekejap. Aku tidak ingin berpisah dengan semua kenangan yang telah terukir dalam di hari-hariku. Bisa kah aku meminta pada penguasa langit agar menurunkan hujan favoritku, hujan ketika pertemuan itu. Hujan yang dingin namun menyatukan hati, membuatnya hangat bagaikan pelukan mentari pagi. Bukan hujan perayaan perpisahan seperti saat ini? Aku benar-benar tidak bisa membayangkan jika ini bencana besar yang akan menghantamku. Ku pastikan aku akan hilang jika itu yang terjadi. Aku belum sanggup meninggalkan dan ditinggalkan. Tolong berikan aku waktu beberapa dekade lagi hanya untuk mengabadikan senyumnya, renyah tawanya, tatapan menenangkannya, merdu lirih suaranya, tingkah konyolnya, dan semua tentangnya. Biarkan aku merekam tiap detiknya. Mungkin aku memerlukan banyak memori untuk merekamnya. Aku bisa membayarnya, walau dengan hidupku yang tak seberapa ini. Tapi tolong izin kan aku mengabadikannya hanya untuk ku. Mungkin terdengar egois dan memaksa. Tapi aku tak punya permintaan yang lain.

Aku hanya ingin mempunyai waktu lebih lama bersamanya. Bagiku ini terlalu singkat, Tuhan. Berikan aku kesempatan, berikan hujan favoritku, bukan hujan perpisahan. Aku masih ingin bersamanya, aku rela menukarnya dengan usiaku. Jika memang harus berpisah, pisahkan lah saat aku sudah tidak bisa lagi mencintainya dengan cintaku. Jika memang cintaku terlalu kuat kepadanya, biarkan aku mencintainya sampai nafas terakhirku berhembus. Jangan pisahkan saat aku masih sangat mencintainya. Terlalu sakit ku rasa. Dia bisa berpura-pura tegar saat hujan turun, karena air matanya melarut bersama buliran hujan. Tapi matanya tak pernah berdusta. Haruskah ada hujan sebagai perayaan perpisahan??


Selasa, 25 Maret 2014

Malam



Malam itu hitam, malam itu gelap, malam itu mencekam, malam itu sunyi, malam itu dingin, malam itu menakutkan. Tapi malam selalu bersahabat. Hanya malam yg mendekap erat tubuh rapuh yg penuh lelah. Hanya malam yg memeluk mesra semua mimpi-mimpi. Hanya malam yang setia menemani setiap hati-hati yang merindu. Hanya malam yang dengan gelapnya setia mendengar isak tangis setiap jiwa yang tersiksa. Ia, malam. Sebagian orang takut jika malam datang, sebagian sangat mendambakannya, mungkin hanya untu memejamkan mata sejenak. Melupakan penat hari-harinya.

Hey... ada apa dengan malam ini?? Mengapa kau tak seperti biasanya? Mengapa dekapanmu tak lagi erat pada tubuh rapuh ini? Mengapa pelukanmu tak mampu menghimpun mimpi-mimpi yang berserakan? Mengapa kau enggan menemani hati yang merindu? Mengapa kau tak lagi sudi mendengarkan tangis jiwa-jiwa yang tersiksa? Jangan kau biarkan aku melewati malam ini dengan hampa. Aku takut, aku takut dengan fajar. Aku takut menatap matahari esok pagi. Aku takut. Aku tak punya nyali. Jika energi bergantung pada malam, aku lebih memilih tak menatap matahari. Matahari terlalu adil membagi sinarnya, ia terlalu baik dengan semua makhluk, sementara aku sang insan pencemburu, tak ingin sinarnya terbagi untuk yang. Itu alasanku memilih malam.

Malam.. aku harap kau kembali lagi, aku merindukan keberadaanmu. Banyak hal yang perlu kau tau tentang aku. Cepatlah kembali. Aku merindukanmu wahai malamku....

from FB someone

Rabu, 04 Desember 2013

Bersamamu.....CINTA

Memandang jam dengan jarumnya yanng terus berputar. Tiga buah jarum secara kompak berputar sesuai dengan posisi dan fungsinya. Detik demi detik menuju menit. Menit demi menit berputar menuju jam. Jam demi jam terlewati menutup hari-hari, terus dan terus berputar. tak tersasa hari kian berlalu berganti dengan minggu. Minggu-minggu terlewati, masih dengan detik yang terus berputar. Ribuan, puluhan ribu, bahkan jutaan detik sehingga semua berlalu mencapai bulan dan tahun. Iya...mencapai bilangan bulan dan tahun.

Hei...Kamu...Iya kamu, kamu yang sedang menoleh ke arah ku. menoleh bahkan berbalik ke arah ku. Perlahan berjalan mendekatiku. Sadar akan panggilan ku? Atau hatimu yang menuntunmu sampai kepadaku? Apapun alasanmu, tetap aku yang kau tuju. Melihat kau menoleh saja, aku merasa sedang berjalan di atas pelangi. Dan sekarang aku melihatmu melangkah ke arah ku. Seandainya ada pengeras suara dari dalam dada, aku rasa kau akan tertawa mendengar degup jantungku yang berirama dengan nada kacau bagai orkestra tanpa pemandu.

 Konyol. Aku rasa sangat konyol. Wajahku memerah seketika, saat melihat bingkisan senyummu yang indah dibungkus tawa yang renyah. serasa es di kutub utara mencair dan meluncur dengan cepat ketika kau menyebut namaku. Kali ini aku benar-benar bisa tersenyum bersamamu, terimakasih telah hadir dan membingkai senyuman indah di bibirku. tak ada keraguan bagiku untuk terus tersenyum tanpa takut akan berganti dengan deraian air mata. Apa yang aku rasa dari apa yang kau beri, bagai oase padang pasir yang selalu dinanti.

Lihat di ufuk timur kala engkau membuka mata dari tidur indah mu. Ada mentari yang bersinar hangat seolah tersenyum pada mu. Ku titipkan salam padanya, salam cintaku pada mu. Salam hangat untuk mengawali setiap pagi indah mu. Teruslah tersenyum untuk ku dengan cinta di hati mu. Tuhan menitipkan senyum itu untuk ku melalui senyum mu.

Terimakasih.... Cinta...

Bersamamu....Cinta^^