Hai, perkenalkan namaku rindu. Aku dulu selalu berada di antara dia dan kamu. Selalu menyelinap dirasanya dan rasamu. Ketika jarak terbentang di antara kalian, akulah yang sering menggema di dalam hati kalian. Iya, aku si rindu.
Tahukah kamu, bahwa dia sering menyalahkan aku ketika namamu tak sanggup disebut olehnya. Dia yang sesak, aku yang dicaci. Padahal aku hanyalah rindu.
Dia selalu menuntutku untuk pergi saja bersamamu, menemanimu, dan menjagamu. Aku sudah sering mengatakan kepadanya, bahwa kamu sudah tidak mau lagi menempatkan aku di dalam hati dan pikiranmu, apa lagi kalau sampai membawa dia bersamamu.
Dasar dia batu. Dalam waktu panjang dia pernah tak mengusikku, kupikir dia memang sudah benar-benar tidak akan pernah menyalahkanku lagi perkara kalian. Hingga pada suatu pagi, aku mendengar degup jantungnya memanggilku lagi. Kutanya kenapa? "Dia menjelma mimpi", katanya.
Kemudian dia bertanya lagi padaku, "Apakah kamu dikirim olehnya untukku?". Tapi, maaf kali ini aku membuatnya kecewa. Yang aku tahu, kamu memang sudah tidak lagi menitipkan aku untuknya, iya kan?


