Pages

Jumat, 06 April 2018

Nanti akan seperti itu...

Ada beberapa kasus tentang rindu. Mungkin rasa rindu akan terobati dengan bertegur sapa, saling chat dengan menyapa "Hai" atau "apa kabar?". Tapi bagiku tidak. Entahlah, mengenang saat bersamamu lebih membuat rinduku membaik, ketimbang aku harus bertanya tentang kabarmu. Aku yakin jika kamu baik-baik saja di manapun kamu berada. Tapi kenangan, tidak semua kenangan kita sama. Sekecil apapun cerita yang dulu kita buat, belum tentu bisa kamu ingat dengan baik. Begitu juga denganku. Bagiku sesuatu itu berkesan, belum tentu bagimu.

Mengingat hal yang dulu membuatku tersenyum sendirian. Walaupun tak jarang berakhir dengan tangisan penyesalan. Iya, aku hanya butuh sendiri untuk mengenangmu. Aku hanya tersenyum dan menangis sendiri. Tidak perlu kamu tau. Terlihat bodoh? Jelas! Kamu saja sudah tidak mengingatku. Mengingat kenangan tentang kita. Taukah kamu ternyata hal yang kita anggap tak berkesan dulu, akan sangat berarti sekarang. Bahkan hanya sekedar senyum yang dipaksakan. Aku belajar menghargai apa-apa yang aku alami sekarang, karena esok itu semua akan menjadi kenangan yang bisa dibanggakan atau sekedar peringatan.

Sekarang dalam pikiranku, kamu di sana memang tetap mengingatku. Entah itu sebagai bekas hati yang kamu cinta, atau sebagai takdir yang tak terelakkan. Bagaimanapun bentuk ingatanmu, aku terimakasih sekali. Mungkin dia yang sekarang di sampingmu, atau yang kelak bergandengan denganmu akan jauh lebih baik untukmu. Tapi, kamu harus ingat. Tidak ada yang seperti aku, jangan menganggap dia seperti aku. Dia jauh lebih baik dari aku.

Mudah saja aku berkata seperti itu. Tapi, sesungguhnya aku cemburu. Cemburu tanpa objek yang jelas. Jika nanti kamu dapatkan dia sebagai pelabuhan terakhirmu, pada saat itu juga aku berjanji untuk segera hilang dari hidupmu. Sama seperti Edward Cullen yang meninggalkan Bella tanpa jejak di cerita New Moon. Bahkan jejakpun tak kuizinkan tinggal di dekatmu. Apa aku jahat? Tidak, justeru aku mencoba baik kepada dia. Aku berbaik kepadanya dengan tidak membayang-bayangi hidup kalian. Dan kamu tidak akan pernah tau lagi tentang rinduku. Selamat berbahagia.

Sabtu, 31 Maret 2018

Melewatkanmu

Aku melewatkanmu satu hari. Kepalaku sakit sekali. Jika aku lupa menemuimu di lain hari, itu artinya aku sedang benar-benar tidak bisa. Bukan berarti aku lupa. Jika memang kamu menganggap aku lupa. Terserah, itu hakmu...

Hari ini cuaca sangat terik. Aku dehidrasi akut. Ternyata dengan mengingatmu saja tidak cukup untuk meredam dehidrasi ini. Aku butuh hujan. Hujan basah seperti biasanya.

Kamis, 29 Maret 2018

Ziarah

Maaf aku terlambat lagi menemuimu. Aku sedang berziarah hari ini. Hati yang lama kosong jika tidak sering-sering diziarahi lama-kelamaan akan kering. Kering dari basahnya air mata bahagia.
Aku sedang menziarahi hatiku sendiri. Di satu sudutnya, aku simpan kenangan tentangmu. Semoga dia tetap bisa kulihat saat aku berziarah lagi, nanti.

Rabu, 28 Maret 2018

Cerita saja

Hari ini aku tidak mau menulis "kata hati" untukmu. Aku ingin bercerita saja. Kalau kamu mau baca, silakan. Tapi kamu tidak bisa mendengar. Entahlah, aku tidak pernah percaya diri berbicara di hadapanmu, bahkan lewat telepon. Kemampuan berbicaraku kurang, mengingat suaraku tak sedap didengar telinga. Terlalu kekanakan, kata mereka.

Aku sudah banyak kesibukan, tapi berdialog monolog atau sekedar bercerita denganmu melalui tulisan yang tak terbaca, seperti menjadi sebuah keharusan di sela kesibukanku. Dan aku suka. Beberapa hari belakangan ini aku mulai dihinggapi sakit kepala seperti dulu lagi. Sangat dan amat sakit rasanya. Sebagian orang bilang kalau aku terlalu lelah. Hei, aku seorang wanita pekerja keras, rela begadang hanya untuk drama korea di sela-sela draft skripsi. Dulu.

Aku sudah pernah bilang padamu, lelah fisik tak masalah bagiku, bisa sembuh dengan banyak istirahat dan mengonsumsi makanan sehat dalam porsi yang banyak. Itu surga bagiku, bagi tubuh yang tidak akan pernah berisi hanya dengan memakan makanan dalam porsi yang besar dengan frekuensi yang terbilang rapat. Kamu pasti sudah tahu.

Bagaimana jika hati dan pikiranku yang lelah? Ah, aku buntu. Aku tidak tahu harus menyembuhkannya dengan apa? Jika kamu bilang berjalan-jalanlah masih banyak belahan bumi lainnya yang bisa aku datangi. Itu kamu benar. Tapi keadaan tidak bisa membuatku merealisasikan itu semua. Aku sudah tidak bersayap. Selendangku sudah diambil orang. Aku hanya selundupan dari kahyangan, dan sekarang harus rela menjadi tawanan. Kamu jijik membacanya? Sama, aku juga jijik menulisnya. Hahahaha

Setiap peristiwa yang terjadi selalu aku bawa perasaan. Apa itu istilahnya, baper ya? Ya begitulah kata anak jaman sekarang. Aku tidak bisa dan biasa menerima sikap arogan orang yang terkesan cuek dan seakan tidak peduli. Berkata lembut tp menusuk, menikam dan menghujam. Ah, sungguh aku tidak suka. Kepalaku makin sakit dibuatnya, napasku sesak, mataku berkabut kemudian berair. Perih.

Sudah ya. Aku tak tahan menulis lagi, aku butuh oksigen untuk menormalkan lagi pernapasanku. Aku pergi dulu. Selamat pagi.

Selasa, 27 Maret 2018

Parah

Parah.

Bahkan aku tidak tahu apa novel kesukaanmu, film favoritemu, atau tulisan-tulisan yang sering kamu baca.

Parah.

Aku hanya tahu, kamu pernah mencintaiku. Tulus.

Parah.

Aku baru sadar, kemudian sedih.
Karena kelak bukan aku cinta terakhirmu.

Parah.

Senin, 26 Maret 2018

Tidur

Aku butuh waktu tidur lebih panjang.

Berharap sang mimpi mempertemukan kita.
Aku butuh waktu yang panjang untuk berbicara denganmu.

Hanya lewat mimpi, berkesan walau sering terlupa.

Tidak apa.

Minggu, 25 Maret 2018

Tidak Mau

Aku tidak tau di mana ujung lelahku.

Yang aku tau aku tidak akan berhenti.

Jika aku harus berhenti, itu bukan karena lelahku.

Tapi karena kamu sudah tidak menginginkanku lagi.